
Menapaki sisa galodo demi merawat tradisi ziarah kubur jelang Ramadhan

Kabupaten Agam (ANTARA) - Matahari mulai merangkak naik. Sekelompok orang dewasa dan beberapa anak-anak terlihat berbondong-bondong melintasi sebuah jembatan darurat yang terbuat dari sebatang pohon kelapa dan tiga batang pohon bambu betung (Dendrocalamus asper) di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Mereka secara bergantian melintasi jembatan darurat yang dibangun secara mandiri oleh masyarakat itu. Satu persatu anak-anak dan orang dewasa berjalan di jembatan sepanjang kurang lebih 10 hingga 15 meter tersebut.
Beruntung, mereka yang hendak menyerang ke seberang sungai mendapat bantuan dari anggota polisi yang sedang bekerja membangun jembatan bailey di lokasi tersebut. Beberapa di antara mereka ada yang melintas sambil menggenggam sebuah golok atau lading.
Zulmi Riswanto, salah seorang warga setempat, mengatakan belasan warga tersebut sedang menuju makam atau kuburan keluarga mereka yang berada di Jorong Kayu Pasak Selatan untuk melaksanakan tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan.
Untuk mencapai pemakaman, Zulmi beserta kerabatnya harus berjalan kaki sekitar dua hingga tiga kilometer. Perjalanan mereka untuk melaksanakan tradisi ziarah kubur tidaklah mudah.
Selain jarak yang jauh, mereka harus menyusuri bekas aliran banjir bandang dengan kondisi dipenuhi batu-batuan besar, berlumpur hingga melintasi aliran sungai yang cukup deras. Jika tidak hati-hati, kecelakaan fatal bisa mengintai kapan saja mengingat medan yang dilalui cukup ekstrem.
Siris, begitu warga setempat memanggilnya, mengatakan ia bersama warga lainnya terpaksa menyusuri bekas aliran banjir bandang karena akses jalan yang biasa dilintasi luluh lantak dihantam banjir bandang.
Tradisi ziarah kubur sudah dilakukan masyarakat Nagari Salareh Aia sejak lama. Kearifan lokal ini tetap dirawat sekalipun daerah itu baru saja terdampak banjir badang.
Selain menjelang puasa, biasanya tradisi ziarah kubur juga dilaksanakan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Dalam rangkaian tradisi ini, biasanya masyarakat yang datang berziarah membersihkan kuburan dan pekarangannya.

Tradisi ziarah kubur biasanya ditutup dengan untaian doa-doa serta Surah Al Fatihah yang dibacakan untuk anggota keluarga yang sudah berpulang. Tradisi ini diyakini menjadi wujud kasih sayang antara ahli waris, serta hubungan manusia dengan Tuhannya.
Senada dengan itu, peziarah lainnya Edi Erianto Risno mengatakan tradisi tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Meskipun Nagari Salareh Aia porak poranda dihantam banjir bandang atau masyarakat Minangkabau menyebutnya galodo, namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat warga untuk menunaikannya.
"Ziarah kubur sudah menjadi tradisi di sini yang dilakukan menjelang bulan puasa," kata Edi.
Di sela-sela ziarah kubur, Edi yang juga marbut masjid mengatakan dari beberapa kali ziarah kubur yang sudah dilewatinya, tahun ini sangat berbeda karena dilakukan di tengah kondisi pemulihan setelah bencana.
Bahkan, baginya, ziarah kubur tahun ini cukup berat karena kakak kandungnya turut menjadi korban banjir bandang di akhir November 2025. Selepas mengunjungi makam keluarga besar di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia ia berencana mendatangi makam kakaknya yang dimakamkan secara massal di daerah Lubuk Basung.
Berangkat umrah
Edi tidak pernah menyangka bencana banjir bandang justru mentakdirkannya untuk berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan umrah. Ia bersama dua marbut lainnya asal Sumatera Utara dan Aceh mendapat kado istimewa dari PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam agenda Garuda Indonesia Umrah Travel Fair (GUTF) 2026.
Apresiasi yang diberikan maskapai pelat merah ini merupakan sebuah wujud kepedulian Garuda Indonesia bagi marbut di tiga wilayah terdampak bencana. Pada awalnya, Edi yang sudah lima tahun menjadi marbut tidak percaya dengan kabar gembira yang ia terima itu.
Bahkan, ia sempat curiga hadiah umrah tersebut merupakan akal-akalan seseorang yang berniat menipunya. Tindakan Edi cukup beralasan karena sejak beberapa tahun terakhir cukup banyak warga yang menjadi korban penipuan.
"Awalnya saya tidak yakin dan berpikiran itu adalah penipuan. Tetapi setelah pihak Garuda mengirimkan surat resmi barulah saya percaya," ujarnya.
Sebelum menunaikan ibadah umrah, Edi terlebih dahulu melengkapi sejumlah persyaratan yang diminta oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk salah satunya terkait sudah berapa lama menjadi marbut di masjid yang terdampak bencana. Jika tidak aral melintang Edi bersama dua marbut asal Sumatera Utara dan Aceh akan bertolak ke Tanah Suci pada 25 Juli 2026.
Bencana banjir bandang yang terjadi di Tanah Minangkabau telah menghanyutkan apa yang dilaluinya, tetapi tidak dengan semangat dan ketakwaan bagi mereka yang masih mempercayai Tuhannya.
Kini, perlahan namun pasti upaya bangkit dari bencana itu sudah mulai terlihat. Daerah-daerah yang terdampak paling parah seperti Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Padang Pariaman mulai berangsur pulih.
Pasar-pasar, sekolah atau rumah ibadah yang sebelumnya tidak ada aktivitas kini mulai hidup seiring rangkaian pemulihan yang dilakukan pemerintah, pihak swasta dan lembaga lainnya.
Khusus di Sumatera Barat, setidaknya daerah itu membutuhkan Rp21,44 triliun untuk memenuhi berbagai kebutuhan pascabencana yang terjadi di 16 kabupaten dan kota akhir November 2025.
Anggaran tersebut dibutuhkan untuk memenuhi pemulihan infrastruktur sebesar Rp17,06 triliun. Kemudian sektor permukiman senilai Rp1,44 triliun, sektor ekonomi Rp1,10 triliun, kebutuhan lintas sektor sebesar Rp1,19 triliun dan sektor sosial membutuhkan anggaran Rp0,64 triliun.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menapaki sisa galodo demi ziarah kubur jelang Ramadhan
Oleh Muhammad Zulfikar
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
