
Ruang kesenian berkelanjutan yang kekinian di Ladang Tari Nan Jombang

Padang (ANTARA) - Dentuman gendang dan musik etnik membuka pertunjukan di atas panggung, diiringi kepulan asap, cahaya merah, dan senandung perempuan yang melengking.
Bangku sudah penuh, sebagian penonton duduk lesehan di bawah panggung, sebagian lagi berdiri. Gedung pertunjukan Manti Menuik di Ladang Tari Nan Jombang, yang berada di komplek perumahan di Balai Baru, Padang itu penuh-sesak oleh penonton, khususnya mahasiswa.
Sesudah pembawa acara membacakan sinopsis, lampu kembali dinyalakan dan pertunjukan dimulai. Saat itu berkesempatan tampil Komunitas Seni Ku-Liek Padang memainkan teater dengan karya Nilonali Sang Puti Bungo Karang.
Pertunjukan dengan sutradara Rafdisyam itu merupakan dekonstruksi dari naskah Nilonali karya Wisran Hadi dengan pendekatan ekokritik yang mengangkat kritik terhadap relasi manusia dan alam.
Tujuh pemain benar-benar memanfaatkan luas panggung sekitar 12 x 9 meter itu. Cahaya mewah didominasi kuning dan biru membuat suasana makin dramatis. Pelakon yang berperan sebagai puti bungo karang meliuk-liuk di atas set panggung berupa mimbar dengan terpaan cahaya lampu. Penonton pun dibikin tidak sabar menanti momen-momen selanjutnya.
Panggung Ladang Tari Nan Jombang dimanfaatkan maksimal oleh para penampil yang ingin merasakan sensasi tampil di ruang teater dengan fasilitas memadai, meski tak besar.
Komunitas Seni Ku-Liek pernah menampilkan naskah ini pada 2025 di Festival Teater Sumatera Barat, di Gedung Kebudayaan Lantai 4 Taman Budaya Sumbar. Namun kala itu, panggung hanya berupa lantai keramik dengan latar tirai seadanya.
Meski ketika itu Komunitas Seni Ku-Liek tampil bagus, respons penonton kurang menggema. Panggung yang minim dukungan teknis membuat energi pertunjukan tak maksimal. Lampu portabel yang tersedia pun terbatas dan monoton. Gedung kebudayaan yang diharapkan menjadi ruang utama berkesenian masih jauh dari memadai.
Pada tahun 2024, UPTD Taman Budaya Sumatera Barat menggelar Festival Teater ke-8 yang mengusung tema "Merespon ruang bebas".
Kelompok teater bebas memanfaatkan ruang mana pun di sekitar gedung, karena hingga kini belum ada ruang pertunjukan yang representatif.
Dulu, Taman Budaya memiliki gedung teater utama yang menjadi barometer pertunjukan di provinsi itu. Namun setelah pembangunan Gedung Kebudayaan Zona A, gedung teater lama, pasar seni, panggung terbuka, dan ruang latihan dibongkar untuk pembangunan Zona B dan C. Hingga kini, Zona B belum rampung; ruang pertunjukan pun belum tersedia. Akibatnya, Dinas Kebudayaan harus menyulap sejumlah ruangan menjadi ruang pentas.
Dinas Kebudayaan, yang baru terbentuk pada 2017, sebagai wujud komitmen pelestarian budaya Minangkabau, berkantor sementara bersama UPTD Taman Budaya di Gedung Kebudayaan Zona A.
Lantai 2 yang semula untuk pertemuan kini menjadi kantor UPTD; lantai 3 yang direncanakan untuk galeri dialihfungsikan sebagai kantor Dinas Kebudayaan; dan lantai 4 dijadikan panggung sementara dengan tirai hitam untuk meredam cahaya siang.
Lantai 5 sebenarnya dirancang sebagai ruang terbuka untuk pentas, tapi kondisinya belum aman. Pagar yang rapuh dan terpaan angin laut dikhawatirkan mengganggu keamanan serta kualitas suara.
Meski demikian, Taman Budaya tak menghentikan kegiatan. Seni tetap berjalan dengan memaksimalkan ruang yang ada. Hingga 2025–2026, pementasan masih berlangsung di tempat yang sama, dengan keterbatasan yang sama.
Tempat Pementasan di Padang
Selain di Ladang Tari Nan Jombang, ruang pementasan juga tersedia di kampus-kampus yang memiliki jurusan seni, meski tak berkelanjutan.
Komunitas Seni Ku-Liek, yang bernaung di Fakultas Bahasa, Sastra, dan Seni (FBSS) Universitas Negeri Padang, memiliki akses panggung di kampus, tapi biasanya hanya dapat dinikmati kalangan kampus dan mahasiswanya.
Festival di luar kampus membuka ruang lebih luas. Saat Komunitas Seni Ku-Liek tampil di Festival Nan Jombang Tanggal 3 pada April, kegiatan memasuki bulan kedua tanpa kehadiran maestro tari Ery Mefri. Pendiri Nan Jombang Dance Company itu wafat pada 11 Februari 2026 akibat gagal ginjal, meninggalkan tiga istri, enam anak, dan sepuluh cucu.
Festival Nan Jombang Tanggal 3 bermula pada 2013, digagas Ery Mefri bersama sejumlah seniman untuk menghadirkan pertunjukan seni tradisi Sumatera Barat secara gratis. Festival itu didukung oleh organisasi nirlaba nasional hingga sekarang.
Sejak 2014, Kaba Festival digelar rutin. Meski dalam kondisi kesehatan yang menurun, Ery kerap menyempatkan diri menyapa penonton sebagai bentuk apresiasi.
Beberapa kali Ery tidak hadir di sana karena kondisi kesehatan menurun. Direktur Festival yang juga istri Ery, Angga Djamar mengatakan bahwa kehidupan harus terus berlanjut walau apapun yang terjadi, sesuai dengan pesan almarhum suaminya.
Menurutnya, Nan Jombang telah melalui perjalanan dan proses yang luar biasa hingga saat ini, konsistensi membuat mereka bisa bertahan untuk melaksanakan kegiatan.
"Mungkin bagi segelintir orang kegiatan ini kecil, tapi yang kecil akan membuat sesuatu menjadi besar, " kata Angga di depan penonton sebelum pertunjukan dimulai.
Ladang Tari Nan Jombang telah menjelma menjadi ruang kesenian tidak hanya bagi kalangan seniman saja, tapi juga para mahasiswa dan pelajar yang belajar berkesenian. Setiap bulan, silih berganti seniman/kelompok seni tampil di sana. Tidak hanya tari, tapi juga teater, musik, dan seni tradisi lainnya.
Kapasitas gedung yang hanya 200 orang, tidak menyurutkan orang-orang untuk menonton kesenian. Nan Jombang juga menyediakan siaran langsung di luar gedung, yakni di Medan Bapaneh yang disediakan tepat di depan pintu masuk panggung pertunjukan. Selain itu, bagi yang tidak dapat hadir, pementasan juga dapat dinikmati melalui kanal Youtube Nan Jombang.
Namun, kebutuhan akan ruang yang lebih luas kian mendesak.untuk menampung keinginan para penonton yang mau menonton secara langsung dan merasakan sensasi pementasan mewah.
Untuk itu beberapa hal bisa dipertimbangkan.
Pertama, perluasan gedung dapat menampung lebih banyak penonton dan meningkatkan kenyamanan.
Kedua, kolaborasi dengan pihak ketiga atau investor bisa membuka ruang pertunjukan baru di lokasi strategis.
Ketiga, penerapan sistem tiket terbatas dapat mengatur kapasitas penonton agar lebih tertib, meski acara tetap gratis.
Keempat, penyediaan perangkat Virtual Reality (VR) dapat memberi pengalaman imersif bagi penonton yang tak bisa hadir langsung.
Selain itu, Nan Jombang juga dapat menambah ruang tertutup atau terbuka untuk berpameran agar peluang berkesenian lebih luas tidak hanya berkutat pada aktivitas di atas panggung. Dengan demikian, kesenian dapat dinikmati lintas generasi, tanpa batas ruang, jumlah, dan teknologi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ruang kesenian berkelanjutan yang kekinian di Ladang Tari Nan Jombang
Pewarta: Fitra Yogi
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
