Pengamat: BI Sadar BI Rate Tidak Efektif
Kamis, 12 Desember 2013 21:12 WIB
Jakarta, (Antara) - Pengamat perbankan dari Universitas Gadjah Mada Paul Sutaryono menilai kebijakan Bank Indonesia mempertahankan BI rate 7,5 persen mengindikasikan BI sadar bahwa kebijakan tersebut tidak efektif menekan defisit transaksi berjalan.
"Jangan sampai kenaikan suku bunga acuan BI menjadi satu-satunya kiat untuk mencegah capital flight atau bahkan menekan current account deficit," ujar Paul di Jakarta, Kamis.
Paul menuturkan, keputusan BI tersebut dinilai sudah sejalan dengan dinamika indikator makro ekonomi yang berkembang belakangan ini.
"Sudah barang tentu itu keputusan BI yang tepat dengan melihat aneka indikator yang mendukung," katanya.
Menurut Paul, level BI Rate di angka 7,5 persen sudah sesuai dengan angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6 persen serta inflasi sebesar 8,37 persen.
Bahkan, BI Rate saat ini juga dianggap konsisten upaya bank sentral dalam mengarahkan inflasi di 2014 di kisaran 3,5-5,5 persen.
Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan (BI rate) pada level 7,5 persen yang dianggap konsisten dengan upaya menuju sasaran inflasi 2014 serta mengendalikan defisit transaksi berjalan turun ke tingkat yang lebih sehat.
Rapat Dewan Gubernur juga memutuskan untuk mempertahankan BI rate pada level 7,5 persen dengan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing 5,75 persen dan 7,5 persen.(*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sebanyak 100 UMKM Terdampak Bencana di Pariaman Terima Bantuan BI--Kementerian
10 February 2026 15:34 WIB
DAUN Ramadan Fest 2026, Sinergi BI dan Pemprov Sumbar Jaga Stabilitas Harga Pangan
08 February 2026 19:11 WIB
Mahyeldi Buka Temu Responden BI Sumbar 2025: "Saatnya Sumbar membuat lompatan ekonomi"
19 November 2025 16:59 WIB
Pemkab Pasaman Barat jalin kolaborasi gelar pangan murah bersama BI, Bulog dan BSI
26 September 2025 18:04 WIB