Jakarta, (Antara) - Pengamat perbankan dari Universitas Gadjah Mada Paul Sutaryono menilai kebijakan Bank Indonesia mempertahankan BI rate 7,5 persen mengindikasikan BI sadar bahwa kebijakan tersebut tidak efektif menekan defisit transaksi berjalan. "Jangan sampai kenaikan suku bunga acuan BI menjadi satu-satunya kiat untuk mencegah capital flight atau bahkan menekan current account deficit," ujar Paul di Jakarta, Kamis. Paul menuturkan, keputusan BI tersebut dinilai sudah sejalan dengan dinamika indikator makro ekonomi yang berkembang belakangan ini. "Sudah barang tentu itu keputusan BI yang tepat dengan melihat aneka indikator yang mendukung," katanya. Menurut Paul, level BI Rate di angka 7,5 persen sudah sesuai dengan angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6 persen serta inflasi sebesar 8,37 persen. Bahkan, BI Rate saat ini juga dianggap konsisten upaya bank sentral dalam mengarahkan inflasi di 2014 di kisaran 3,5-5,5 persen. Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan (BI rate) pada level 7,5 persen yang dianggap konsisten dengan upaya menuju sasaran inflasi 2014 serta mengendalikan defisit transaksi berjalan turun ke tingkat yang lebih sehat. Rapat Dewan Gubernur juga memutuskan untuk mempertahankan BI rate pada level 7,5 persen dengan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing 5,75 persen dan 7,5 persen.(*/sun)