Obama dan Castro Berjabat Tangan
Rabu, 11 Desember 2013 6:49 WIB
Johannesburg, (Antara/Reuters) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama berjabat tangan dengan pemimpin Kuba Raul Castro pada upacara peringatan mengenang Nelson Mandela di Johannesburg Selasa.
Sikap langka itu diperlihatkan keduanya yang memiliki pandangan ideologi berbeda tetapi mencerminkan semangat rekonsiliasi pahlawan antiapartheid itu.
Sebaliknya perdamaian dan harmoni tidak mengarah ke Presiden Afrika Selatan Jocob Zuma.
Kerumunan orang di stadion yang diguyur hujan di Johannaesburg mengejek dan mencemoh Presiden Zuma ketika ia siap-siap memberikan pidato penutupan pada upacara itu.
Kematian Mandela pada usia 95 tahun telah mengalihkan perhatian dari serangkaian skandal korupsi dalam pemerintahan Zuma. Mandela merupakan presiden pertama kulit hitam Afrika Selatan dan Zuma sebagai presiden keempat.
"Mandela memiliki visi. Mandela menghidupkan visi itu," kata Funeka Gingcara-Sithole, 31, yang bgerada di antara kerumunan itu. "Tapi apa yang Zuma katakan, dia tidak hidup. Dia semestinya melakukan tindakan perkasa dengan mengundurkan diri."
Penyambutan yang diterima Zuma merupakan suatu hal yang kontras dari penyambutan bintang rock kepada Obama, satu di antara 90 pemimpin dunia yang menyampaikan selamat jalan kepada Mandela di Johannesburg.
Ketika dia naik ke podium, Obama mengulurkan tangannya ke Castro, pemimpin komunis, yang menjabatnya dan tersenyum kembali.
Gedung Putih menyatakan sikap itu merupakan suatu hal yang biasa-biasanya, bukan isyarat perubahan politik.
"Tak ada rencana apa-apa terkait peran presiden selain memberikan kata sambutan," kata Wakil Penasehat Keamanan nasional Ben Rhodes kepada wartawan yang turut rombongan Obama.
"Dia sesungguhnya bertindak tidak lebih dari bertukar salam dengan para pemimpin ketika hendak memberi sambutan, ini bukan diskusi substantif," kata dia.
Pemimpin AS dan Kuba tercatat pernah bersalaman ketika mereka berada di PBB tahun 2000, manakala saudara laki-laki Fidel Castro menyalami Presiden AS waktu itu Bill Clinton.
Sikap Obama itu tidak mencegahnya menyampaikan sambutan dengan kata-kata tajam kepada para pemimpin, yang dia katakan, menyokong perjuangan Mandela terhadap tekanan sementara memojokkan oposisi dan mereka yang tak sepakat di dalam negerinya.
"Banyak di antara kita yang dengan senang mengikuti warisan Madiba untuk rekonsiliasi ras tetapi tetap saja menentang reformasi yang akan mengatasi kemiskinan dan ketaksetaraan yang terus meningkat," kata Obama yang berbicara beberapa meter dari Castro dan wakil Presiden China li Yuanchao.
"Juga ada banyak pemimpin yang mengaku solidaritas bersama perjuangan Madiba untuk kebebasan tetapi tidak mentolerir penentangan dari rakyat mereka sendiri," kata dia, yang menggunakan nama klan Mandela.
Di Kuba, televisi negara melaporkan jabat tangan Obama-Castro tanpa komentar bersama dengan tayangan sambutan Castro. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bulog Bukittinggi serap Cadangan Beras Pemerintah di Pasaman dan Pasaman Barat
12 February 2026 19:21 WIB
Wali Kota Sawahlunto minta pengaduan warga ditindaklanjuti cepat dan terukur
12 February 2026 12:08 WIB
Pastikan layanan prima dan operasional aman, KAI Divre II Sumbar lakukan inspeksi keselamatan lebaran 2026
12 February 2026 11:59 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018