BKP: Ketahanan Pangan Jadi Ancaman Besar Indonesia
Sabtu, 16 November 2013 14:23 WIB
Ilustrasi. (Antara)
Medan, (Antara) - Ketahanan pangan dapat menjadi ancaman besar bagi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang jika tidak disikapi dengan penyiapan berbagai program yang tepat meningkatkan produksi tanaman pangan.
Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Sumut Setyo Purwadi di Medan, Sabtu, mengatakan, ancaman itu muncul karena perkiraan pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan penambahan hasil produksi.
Indikasi ancaman tersebut telah terlihat dari bergesernya posisi Indonesia sebagai negara swasembada beras pada tahun 80-an menjadi salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia.
Demi memenuhi kebutuhan penduduk yang mencapai 240 juta jiwa pada tahun 2012, Indonesia terpaksa mendatangkan beras dari negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam.
Pada tahun 2030, penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 400 juta jiwa sehingga kebutuhan beras dan berbagai jenis pangan lain juga diyakini akan meningkat.
"Pada 2030 itu, kebutuhan beras kita akan naik 160 persen dibandingkan tahun 2012," katanya.
Ia menjelaskan, berdasarkan perkiraan dari konsep pola pangan harapan (PPH) dianalogikan kebutuhan beras sebanyak 126 Kg per kapita per tahun yang dikonvensi dengan jumlah penduduk, maka diperoleh angka kebutuhan 50 juta beras per tahun.
Jumlah itu sama artinya dengan ketersediaan 75 juta ton gabah kering giling atau 93 juta ton gabah kering panen yang harus dihasilkan dengan penanaman di sawah seluas 20,67 juta hektare.
Dari segi kebijakan, Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian telah melaksanakan program perluasan lahan pertanian 14 juta hektare guna mendukung target surplus 10 juta ton pada 2014.
Namun dalam kenyataannya, pemerintah dihadapkan pada sederetan masalah seperti peningkatan produktivitas, kualitas, dan penyusutan hasil gabah atau beras.
Realitas itu belum termasuk ketersediaan komoditas lain yang mempunyai peranan penting dalam membangun ketahanan pangan nasional seperti jagung, kedelai, cabai, daging, garam, bawang, dan berbagai komoditas lain.
Ironisnya, berbagai komoditas untuk membangun ketahanan pangan nasional tersebut juga banyak bergantung pada impor.
Berbagai kondisi mengawatirkan itu diperparah dengan fenomena menurunnya minat generasi muda untuk menekuni profesi pertanian karena dianggap tidak menjanjikan kesejahteraan hidup.
Disebabkan pemerintah pusat tidak bisa lagi memaksa daerah untuk menanam komoditas tertentu, dibutuhkan bantuan dan peranan pemerintah daerah untuk mengatasi ancaman tersebut.
"Jika tidak, kondisi ini sungguh mengawatirkan nasib perjalanan bangsa ke depan," kata Purwadi. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dukung ketahanan pangan, pemerintah akan tetapkan lahan sawah yang dilindungi di 12 provinsi
26 March 2026 14:04 WIB
Kementerian ATR/BPN dukung program ketahanan energi lewat penyediaan lahan dan tata ruang
17 March 2026 11:20 WIB
TP PKK Pasaman Barat bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Bank Indonesia bersinergi gelar gerakan pangan murah
25 February 2026 15:53 WIB
MUI Sawahlunto Ajukan Rekomendasi Penguatan Ketahanan Spiritual Generasi Muda
16 December 2025 12:52 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018