Tripoli, (Antara/Reuters/Xinhua) - Sejumlah pria bersenjata membunuh sedikitnya 12 tentara Libya dalam satu serangan terhadap tempat pemeriksaan dekat kota Bani Walid, bekas benteng pendukung Muammar Gaddafi, kata beberapa perwira keamanan Sabtu. Dua tahun setelah Gaddafi digulingkan dan dibunuh dalam perang saudara, pemerintahan pusat yang rapuh di negara Afrika Utara itu berjuang mengendalikan para milisi yang saling bersaing berebut pengaruh setelah konflik. "Penyergapan itu terjadi di jalan antara Bani Walid dan kota Tarhouna tempat tentara memiliki satu tempat pemeriksaan. Mereka datang dengan serangan senjata berat. Antara 12 dan 15 tentara gugur," kata Ali Sheikh, juru bicara kepala staf gabungan. Kapten Hassan al-Saidah mengatakan 15 tentara gugur dan lima lain luka-luka dalam serangan itu, yang memaksa para pejabat menutup jalan utama ke Bani Walid. Para pejabat tidak mengatakan siapa yang mungkin bertanggung jawab atas penyergapan itu. Persaingan antarsuku dan klan dan juga kelompok-kelompok beraliran Islam telah berkembang manakala ketiadaan pemerintahan pusat yang kuat dan pasukan bersenjata Libya tak dapat sepenuhnya memelihara ketertiban. Pada Rabu (2/10), Kedutaan Besar Rusia di Tripoli, Libya, diserang massa dan mereka menerobos ke dalam kompleks diplomatik tersebut, dan menimbulkan kerusakan serius. Para penyerang menuntut penyerahan seorang perempuan Rusia yang diduga telah membunuh seorang perwira militer Libya. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Jumat (4/10), dengan keras mengutuk serangan terhadap Kedutaan Besar Rusia di Libya, dan menekankan para pelakunya harus diseret ke pengadilan. "Anggota Dewan Keamanan mengutuk sekeras-kerasnya serangan terhadap Kedutaan Besar Rusia di Tripoli," kata satu siaran pers yang dikeluarkan di Markas PBB, New York, oleh Dewan 15-anggota itu. Di dalam pernyataan tersebut, anggota Dewan menyampaikan keprihatinan mereka yang mendalam mengenai serangan itu dan menggaris-bawahi perlunya menyeret para pelaku ke pengadilan. "Anggota Dewan Keamanan kembali menegaskan tindakan semacam itu tak bisa dibenarkan tak peduli apa pun alasannya, di mana pun terjadinya dan siapa pun pelakunya," kata pernyataan tersebut. Dewan Keamanan juga menyeru pemerintah Libya agar melindungi personel, harta konsulat dan diplomatik, serta menghormati kewajiban internasional mereka mengenai itu. "Anggota Dewan Keamanan mengingatkan tentang prinsip dasar tak boleh dilanggarnya kompleks konsulat dan diplomatik, dan kewajiban pemerintah tuan rumah untuk melakukan semua tindakan yang sesuai guna melindungi komplek konsulat dan diplomatik terhadap setiap penyusupan atau kerusakan. Semua itu termaktub di dalam Konvensi Wina 1961 mengenai Hubungan Diplomatik dan Konvensi Wina 1963 tentang Hubungan Konsuler. Pemerintah tuan rumah juga harus mencegah setiap gangguan atas kedamaian misi ini atau pengrusakan terhadap kedaulatannya, dan mencegah setiap serangan terhadap kompleks diplomatik, petugas dan kantor konsulat," kata pernyataan tersebut. Sebanyak 51 diplomat Rusia telah diungsikan dari ibu kota Libya. (*/sun)