Ramadhan: Penarikan Dubes Nurfaizi Bukan Langkah Tepat
Jumat, 16 Agustus 2013 17:40 WIB
Jakarta, (Antara) - Usulan menarik Duta Besar Indonesia di Mesir Nurfadzi Suwandi bukan langkah tepat, karena justru akan menyulitkan prioritas Indonesia menjamin keselamatan WNI dan menghentikan semakin banyaknya korban jiwa di negara itu, kata Anggota Komisi I DPR Ramadhan Pohan.
"Begini, pemerintah sudah cukup 'cantik' memainkan peran. Kita tidak dapat melakukan langkah 'drastis' seperti mengirim pasukan atau menarik Dubes kita di Mesir, karena keselamatan WNI di sana harus dipantau terus dengan perwakilan diplomatik," kata Ramadhan seusai pembacaan pidato kenegaraan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, Jumat.
Menurut Ramadhan, pemerintah sudah mengambil sikap yang tepat, dengan memberikan pandangan tegas mengenai krisis politik di Mesir.
Pernyataan Presiden SBY dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa kepada dunia internasional untuk bekerja sama dalam pemulihan krisis Mesir, kata Ramadhan, sudah mencerminkan pandangan tegas Indonesia terhadap krisis yang telah mengorbankan ratusan korban jiwa itu.
"DPR mengetahui Marty Natalegawa sudah melakukan komunikasi dengan komunitas internasional untuk memikirkan bagaiaman solusi pemulihan krisis di Mesir," ucapnya.
Dia juga berpendapat Indonesia sudah melakukan langkah-langkah proaktif dengan berbagai alternatif kontribusi terhadap pemulihan krisis di Mesir, sebagaimana yang dilakukan negara-negara lain.
Pemerintah Inggris menunjukkan kepedulian dengan memanggil Duta Besar Mesir untuk berkomunikasi dan menyampaikan keprihatinan mendalam.
"Perlu diingat, tidak semua langkah diplomasi yang dilakukan pemerintah dapat kita jelaskan di media, tapi langkah sejauh ini sudah tepat," ujarnya.
Dalam pidato kenegaraannya hari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan agar pihak-pihak yang bertikai di Mesir untuk menahan diri agar dapat mencegah semakin banyaknya korban jiwa.
"Saya tahu situasi yang dihadapi oleh Bangsa Mesir saat ini tidak mudah, tetapi selalu ada jalan keluar jika semua pihak mau membangun kompromi dan 'win-win solution'," kata Presiden.
Krisis politik di Mesir telah memakan korban jiwa sebanyak 600 orang, baik dari pihak pendukung Ikhwanul Muslimin yang mendukung mantan Presiden terguling Mohamed Moursi maupun dari pihak militer serta polisi.
Kelompok Ikhwanul Muslim menuduh militer telah melakukan kudeta ketika mereka menggulingkan pemimpinnya, Presiden terpilih Mohamed Moursi bulan lalu.
Para aktivis liberal dan pemuda yang mendukung militer melihat gerakan itu sebagai respons positif terhadap tuntutan rakyat di Mesir. (*/wij)
Pewarta : 34
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polisi klarifikasi tolak bantuan pendampingan korban penembakan di tol
04 January 2025 14:12 WIB, 2025
141 anggota termasuk Jepang dukung resolusi, PBB desak Rusia tarik pasukan dari Ukraina
24 February 2023 9:47 WIB, 2023
BBPOM Sumbar: Belasan ribu botol obat sirup terlarang ditarik dari pasar
27 October 2022 19:20 WIB, 2022
Tanggapan Kemenperin terkait penarikan Mie Sedaap di beberapa negara
21 October 2022 10:33 WIB, 2022
Masalah perangkat pengingat tekanan ban, Ford akan tarik 2.900 truk listrik F-150 Lightning
28 June 2022 7:13 WIB, 2022
Dolar AS melemah, investor terima berita tentang krisis Ukraina-Rusia
16 February 2022 6:36 WIB, 2022
Harga minyak reli, penarikan persediaan AS kurangi kekhawatiran atas Omicron
23 December 2021 6:31 WIB, 2021
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018