Raul Castro Kritik AS, Dukung Snowden
Senin, 8 Juli 2013 13:32 WIB
Havana, (Antara/Reuters) - Presiden Kuba Raul Castro, Minggu, mendukung tawaran suaka Venezuela dan negara-negara Amerika Latin lainnya kepada buronan Pemerintah Amerika Serikat, kontraktor agen mata-mata Edward Snowden.
Castro mengkritik Amerika Serikat atas apa yang Havana gambarkan sebagai intimidasi terhadap negara lain.
Presiden Kuba, yang berbicara dalam rapat tertutup Majelis Nasional, mengatakan Venezuela dan negara-negara lain di wilayah itu memiliki hak untuk memberikan suaka "kepada mereka yang dianiaya karena cita-cita atau perjuangan mereka untuk demokrasi, sesuai dengan tradisi kami," menurut kantor berita resmi Prensa Latina.
Wartawan asing dilarang meliput pertemuan parlemen itu.
Pernyataan Castro adalah komentar publik pertama terkait kasus Snowden.
Kuba selama bertahun-tahun telah memberikan perlindungan terhadap berbagai buronan Amerika Serikat yang dianggap sebagai pengungsi politik, terutama anggota dari kelompok Black Panthers beberapa dasawarsa lalu.
Negara-negara komunis yang merupakan sekutu pemerintahan kiri Kuba, yaitu Bolivia, Venezuela dan Nikaragua telah menyatakan bahwa pintu mereka terbuka untuk Snowden.
Castro tidak mengatakan apakah Kuba telah menerima permintaan suaka dan apa sikap negara itu jika benar hal itu terjadi.
Snowden, 30, diyakini bersembunyi di daerah transit bandara internasional Sheremetyevo Moskow dan telah mencoba untuk menemukan sebuah negara yang akan memberinya suaka sejak ia mendarat dari Hong Kong pada 23 Juni lalu.
Tidak ada penerbangan komersial langsung antara Moskow dan
ibukota Venezuela, Caracas, dan rute yang biasanya akan melibatkan
pergantian pesawat di Havana. Tidak jelas apakah pemerintah Kuba
akan membiarkan Snowden melakukan transit. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Snowden di pesawat menuju Havana pada Sabtu lalu.
Castro mengecam ancaman sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap
setiap negara yang menerima Snowden dan juga mengecam insiden pekan ini dimana beberapa negara Eropa melarang pesawat presiden Bolivia Evo Morales dari wilayah udara mereka atas dugaan jika pesawat itu membawa mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat.
"Tindakan ini menunjukkan kita hidup di dunia di mana yang kuat merasa bahwa mereka dapat melanggar hukum internasional, melanggar
kedaulatan nasional negara lain, dan menginjak-injak hak-hak
warga," katanya, menuduh Amerika Serikat menggunakan sebuah
"filosofi dominasi."
Castro meremehkan pengakuan Snowden tentang program mata-mata rahasia Amerika Serikat dengan menyatakan bahwa Kuba telah menjadi salah satu negara yang paling dimata-matai di planet ini. "Kami sudah tahu tentang keberadaan sistem ini," katanya, sambil menutup rapat parlemen. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pelatih Shakhtar Donetsk tak sabar tantang Inter Milan di babak semifinal Liga Europa
12 August 2020 6:03 WIB, 2020
Dubes Kuba ingin perkuat kerja sama pertukaran kebudayaan dengan Indonesia
27 September 2019 6:30 WIB, 2019
Presiden Jokowi Sampaikan Belasungkawa Terkait Wafatnya Fidel Castro
27 November 2016 20:40 WIB, 2016
Fidel Castro Muncul Dipublik untuk Pertama Kalinya dalam 14 Bulan Terakhir
05 April 2015 13:01 WIB, 2015
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018