
Berakhirnya Castro-Isme Dalam Pemulihan Hubungan Kuba-AS

Havana, (Antara/AFP) - Keputusan pemulihan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Kuba merupakan awal dari berakhirnya ideologi Castro-isme dan kemenangan bagi praktik diplomasi pragmatis, kata sejumlah pengamat. Presiden Cuba Raul Castro adalah tokoh yang paling berperan dalam pemulihan hubungan tersebut dengan mengurangi sentimen retorika anti-Amerika setelah mengambil alih kekuasaan dari saudara tua Fidel Castro pada 2006 lalu. Pemulihan hubungan kedua negara diperkirakan tidak mungkin terjadi jika Fidel masih memerintah Kuba, kata sejumlah pengamat politik dan diplomat kepada AFP. Selama berkuasa, Fidel selalu menampilkan diri sebagai musuh abadi "imperialisme Amerika" yang kemudian diperparah dengan sejumlah upaya pembunuhan oleh badan intelejen Amerika Serikat ,CIA. Namun Raul punya pandangan berbeda. Dia meninggalkan gaya retoris saudara tuanya dan sedikit demi sedikit memulai reformasi ekonomi sejak menjadi presiden. Sikap Raul itu sesungguhnya ironis karena sejumlah pengamat menilai dia merupakan tokoh yang tak-kalah keras dari Fidel saat menjabat sebagai menteri pertahanan. Namun tanda-tanda perubahan mulai terlihat saat dia mengatakan bahwa Kuba berniat membangun kerja sama dengan Amerika Serikat dalam kesetaraan hubungan. "Kesepakatan normalisasi hubungan ini tidak muncul begitu saja. Keputusan ini muncul melalui proses panjang yang melibatkan sejumlah konsesi dari dua pihak," kata seorang diplimat yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada AFP. Menurut sumber tersebut, pertukaran tahanan--tiga mata-mata Kuba dan seorang anggota intelejen Amerika Serikat--hanya merupakan "bagian yang nampak dari kesepakatan-kesepakatan lain." "Ada sejumlah konsesi dan perjanjian lain," kata dia. Momen kunci pemulihan hubungan terjadi saat sejumlah pejabat Amerika Serikat menghadiri pertemuan regional soal Ebola di mana Kuba menjadi tuan rumah. Saat itu, Kuba dipuji oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat karena mengirim puluhan dokter dan perawat untuk menghentikan penyebaran wabah Ebola di Afrika Barat. Momen kunci lain terjadi pada Desember tahun lalu saat Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Castro berjabat tangan dalam acara penguburan jenazah Nelson Mandela di Afrika Selatan. Tapi sejumlah pengamat mengatakan bahwa tanda-tanda pertama muncul satu bulan sebelumnya, ketika Obama di Miami--basis komunitas imigran Kuba anti-Castro--mengatakan bahwa sudah saatnya untuk mengakui kegagalan embargo perdagangan yang sudah berlangsung lema dekade. "Bagi saya, tanda-tanda pertama pemulihan hubungan muncul pada 8 November 2013, ketika Obama untuk pertama kali dalam 50 tahun mengakui kegagalan kebijakan Amerika Serikat untuk Kuba," kata seorang diplomat Eropa yang meminta identitasnya dirahasiakan. Sementara di Kuba, kunci perubahan terlihat saat Raul Castro membiarkan Paus Francis untuk bertindak sebagai penghubung. Raul juga telah memulai sejumlah reformasi penting di dalam negeri, seperti mencabut larangan perjalanan bagi orang asing, membuka peluang investasi bagi modal luar negeri, membiarkan warga Kuba membeli telephon genggam dan internet. Lebih dari itu, Raul juga tidak lagi menyebut imigran Kuba di Amerika Serikat sebagai penghianat. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
