Batam, (Antara) - Kepala Dinas Penjualan dan Layanan Perusahaan Gas Negara (PGN) Area Batam, Afdal membantah melakukan penghentikan pasokan ke Bright PLN Batam pada 20 Juni 2013 sehingga mengakibatkan pemadaman total selama beberapa jam. "Tidak ada pengurangan pasokan gas dari PGN ke PLN Batam. Malahan sejak 17 Juni 2013 kami menawarkan pada PLN untuk penambahan pasokan gas ke pembangkit mereka," kata dia di Batam, Senin. Ia menduga, padamnya listrik di Batam karena pembangkit PLN di Panaran tidak mampu menerima tekanan peningkatan pasokan gas dari PGN sehingga mesinnya mati. "Salah besar kalau dibilang ada pengurangan, yang ada malah terjadi penambahan. Karena mesinnya tidak kuat menerima tekanan dan mati, maka butuh waktu lama untuk menghidupkan kembali," kata dia. PGN, kata dia, tetap komitmen untuk memprioritaskan suplai kami ke PLN Batam selain 30 pelanggan lain yang dilayani di Batam. "Hingga saat ini volume gas yang kami salurkan untuk PLN Batam sebesar 13,2 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD) atau setara dengan 65 MW," kata Afdal. Meski bukan kesalahan bukan pada PGN, Afdal minta maaf atas kejadian yang terjadi di Batam mulai 20 Juni 2013. "Hal ini diluar rencana yang ada. PGN minta maaf pada masyarakat Batam," kata dia. Sementara itu, Direktur Utama Bright PLN Batam, Dadan Kurniadipura mengatakan pemadaman yang terjadi di Batam mulai 20 Juni 2013 karena pasokan ke pembangkit Panaran menurun dari 40 bar menjadi 0,1 bar sehingga tidak bisa memproduksi listrik. "Pada 20 Juni 2013 sama sekali tidak ada pasokan. Akhirnya pembangkit mati. Kami juga tidak mendapat alasan yang pasti dari PGN," kata dia. Ia mengatakan, akibat matinya pembangkit di Panaran mengakibatkan seluruh aliran listrik ke pelanggan di Batam mati total. Sejak terjadi keputusan pasokan gas dari Grisik pada Kamis (20/6) PLN Batam merugi hingga Rp11,6 miliar. Kerugian tersebut, kata dia, karena Bright PLN Batam harus menghidupkan seluruh pembangkit berbahan bakar solar berkapasitas 60 MW untuk menyuplai kebutuhan listrik rumah tangga. "Karena seluruh pembangkit gas kapasitas 220 MW semua mati, sementara pembangkit tenaga uap sebesar 2x55 tidak mampu menyalurkan daya untuk mengganti sehingga juga ikut masti. Akhirnya kami gunakan pembangkit tenaga diesel yang menghabiskan Rp11,6 miliar," kata dia. (*/jno)