Tersangka Pembom Boston Tidak Dikenal di Chechnya
Sabtu, 20 April 2013 6:26 WIB
Moskow, (Antara/AFP) - Dua bersaudara etnik Chechnya yang dituduh melakukan serangan bom pada Marathon Boston tidak memiliki kaitan dengan Chechnya, kata pemimpin wilayah berpenduduk Muslim di Rusia selatan itu, Jumat.
"Mereka tumbuh di Amerika, pandangan dan keyakinan mereka terbentuk di sana. Akar kejahatan harus dicari di Amerika," kata Ramzan Kadyrov, pemimpin republik Kaukasus Utara itu, dalam pernyataan di akun Instagram-nya.
Meski mengungkapkan bela-sungkawa kepada rakyat AS, ia mengecam aparat penegak hukum Amerika karena membunuh saudara tertua, Tamerlan Tsarnaev, dengan mengatakan, "Adalah hal yang logis menangkapnya dan melakukan penyelidikan."
"Tampaknya badan-badan khusus memerlukan hasil dengan risiko apa pun untuk menenangkan masyarakat," tulisnya.
Kadyrov sebelumnya mengatakan kepada Kantor Berita RIA Novosti, "Kami tidak mengenal Tsarnaev bersaudara. Mereka tidak tinggal di Chechnya. Mereka tinggal dan belajar di Amerika. Apa yang terjadi di Amerika adalah kesalahan badan-badan khusus Amerika."
"Telah menjadi kecenderungan untuk mengaitkan apa yang terjadi di dunia dengan orang Chechnya, menyalahkan orang Chechnya, bahkan untuk tsunami," kata orang kuat Chechnya itu, yang terkenal dengan pernyataan-pernyataannya yang lantang.
Halaman di situs Internet berbahasa Rusia milik Dzhokhar Tsarnaev (19), adik dari Tamerlan Tsarnaev, menyebutkan, ia berbicara bahasa Chechnya dan bergabung dengan dua kelompok untuk Chechnya.
Tamerlan Tsarnaev (26), yang tewas ditembak oleh polisi di Boston, menggambarkan hubungannya di situs YouTube dengan orang-orang yang disebutnya sebagai "teroris" namun tidak menyebut langsung asal Chechnya-nya.
Paman mereka di AS mengatakan, kakak-beradik itu adalah keturunan Chechnya yang lahir di republik tetangganya, Dagestan, dimana ayah mereka tinggal.
Kekerasan berkobar di Kaukasus Utara yang berpenduduk mayoritas muslim, dimana gerilyawan yang marah karena kemiskinan dan terdorong oleh ideologi jihad global ingin mendirikan sebuah negara merdeka yang berdasarkan hukum sharia.
Dagestan, yang terletak di kawasan pesisir Laut Kaspia, telah menggantikan wilayah-wilayah tetangganya sebagai pusat kekerasan di Kaukasus Utara yang berpenduduk mayoritas muslim.
Dagestan berbatasan dengan Chechnya di Kaukasus Utara, dimana Rusia menghadapi kekerasan muslim garis keras, dan provinsi yang berpenduduk mayoritas muslim itu seringkali dilanda serangan dengan sasaran aparat penegak hukum dan pejabat pemerintah.
Serangan-serangan itu telah membuat Kremlin berjanji lagi menumpas gerilyawan di Kaukasus Utara. Wilayah tersebut dilanda kekerasan sejak dua perang pasca-Sovyet terjadi di Chechnya antara pasukan pemerintah dan gerilyawan separatis.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia menuduh pihak berwenang Rusia di kawasan Kaukasus Utara -- mulai dari Laut Hitam hingga Laut Kaspia -- melakukan pelangaran HAM dengan dalih menumpas militansi muslim. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Di sepeda motor pembom bunuh diri Polrestabes Medan, polisi temukan peluru Kaliber 22
14 November 2019 13:44 WIB, 2019
Pembom bunuh diri Polrestabes Medan ternyata mahasiswa, berinisial RMN
13 November 2019 15:41 WIB, 2019
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018