Seoul, (Antara/AFP) - Amerika Serikat menggelar satu kapal perusak di lepas pantai Korea Selatan untuk menangkal kemungkinan serangan peluru kendali, terbaru dalam serangkaian pengerahan kekuatan militer untuk menghadapi ancaman-ancaman Korea Utara. Kapal perusak USS Fitzgerald dikirim ke pantai barat daya Korsel setelah mengikuti pelatihan militer tahunan, tidak pulang ke pangkalannya di Jepang, kata seorang pejabat pertahanan AS yang tidak bersedia namanya disebutkan kepada AFP, Senin. Penggelaran itu dilakukan beberapa jam setelah satu sidang parlemen Korut yang menyetujui satu undang-undang yang meresmikan status negara itu sebagai satu negara yang memiliki senjata nuklir. Semenanjung Korea dllanda ketegangan yang meningkat sejak Korut meluncurkan satu roket jarak jauh Desember disusul oleh satu uji coba nuklir Februari. Sanksi-sanksi PBB dan pelatihan militer tahunan Korea Selatan-Amerika Serikat digunakan oleh Pyongyang sebagai alasan untuk membenarkan ancaman-ancaman keras yang meningkat terhadap Washington dan Seoul, termasuk peringatan-peringatan serangan-serangan militer dan perang nuklir. Dalam hubungan ini penggelaran kapal perusak USS Fitzgerald adalah "satu tindakan yang bijaksana," kata pejabat pertahanan AS itu, dan menambahkan hal itu akan memberikan opsi-opsi pertahanan rudal yang lebih besar seandainya diperlukan". Senin siang, militer AS mengumumkan pihaknya mengerahkan pesawat-pesawat tempur siluman Raptor F-22 ke Korsel sebagai bagian dari pelatihan militer gabungan tahunan "Foal Eagle". Juru bicara Pentagon George Little mengatakan pesawat-pesawat F-22 adalah satu "penggelaran penting" dari komitmen AS pada aliansi militernya dengan Korsel. Korut harus memilih. Mereka dapat terus melakukan provokasi-provokasi,tindakannya yang suka berperang, meningkatkan ketegangan, retorika yang tidak bertanggung jawab atau mereka dapat memilih jalan perdamaian," kata Little kepada wartawan. Korut telah mengancam akan menyerang daratan AS dan pangkalan-pangkalan militer AS di Pasifik untuk menanggapi pengerahan pembom-pembom tempur B-52 dan B-2 yang berkemampuan nuklir dalam pelatihan militer "Foal Eagle" itu. Tetapi perundingan belum menyentuh tindakan di lapangan, kata pihak intelijen AS. "Kendatipun retorika keras kami dengar dari Pyongyang, kami melihat tidak ada perubahan dalam situasi militer Korut, seperti mobiliasi berskala luas dan penempatan pasukan," kata juru bicara Gedung Putih Jay Carney. Sementara itu, presiden baru Korsel, Park Geun-Hye, mengemukakan kepada para pejabat senior militer bahwa setiap provokasi dari Korut harus ditanggapi dengan satu tanggapan militer "yang kuat dan segera, tidak masalah apapun risiko politiknya. Sikap tegas AS dan Korsel menunjukkan kedua negara itu sedang bekerja sama erat, dan Menlu Korsel Yun Byung-Se berada di Washington untuk berunding dengan Menlu AS John Kerry, Selasa. "Ancaman militer yang terus dilakukan Korut" akan menjadi agenda penting Yun, kata kementerian luar negeri Korsel dalam satu pernyataan. Ketegangan yang meningkat di semenanjung Korea telah memicu kekhawatiran luas internasional bagi terjadinya satu konflik yang meningkat segera. (*/sun)