Pengendalian Tembakau di India Libatkan Polisi
Selasa, 19 Maret 2013 18:52 WIB
Tembakau. (Antara)
Jakarta, (Antara) - Ahli bedah kanker kepala dan leher Rumah Sakit Tata Memorial, Mumbai, India Prof dr Pankaj Chaturvedi mengatakan pengendalian tembakau di India melibatkan dokter dan polisi selain lembaga swadaya masyarakat.
"Tembakau merupakan kejahatan bagi umat manusia karena menyebabkan kematian akibat penyakit yang disebabkan oleh rokok. Karena itu, pengendalian tembakau bukan hanya tugas negara dan lembaga swadaya masyarakat," kata Pankaj Chaturvedi di Jakarta, Selasa.
Prof dr Pankaj Chaturvedi menjadi pembicara dalam diskusi yang diadakan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) bekerja sama dengan Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Kepolisian RI.
Menurut dia, dokter dan polisi harus dilibatkan dalam pengendalian tembakau karena dokter merupakan saksi dari kejahatan akibat rokok. Sementara itu, polisi sebagai penegak hukum memiliki tugas untuk menghentikan terjadinya kejahatan.
"Kampanye pengendalian tembakau di India cukup berhasil karena di sana masyarakat takut dengan polisi. Saya tidak tahu apakah di Indonesia, masyarakat juga takut dengan polisi," tuturnya.
Selain melibatkan dokter dan polisi, kata Pankaj, kampanye pengendalian tembakau di India juga melibatkan para korban yang berhasil selamat dari penyakit akibat rokok.
Oleh karena itu, dia menyarankan agar para aktivis pengendalian tembakau Indonesia membuat blog atau web untuk menyuarakan suara para korban.
"Meskipun mereka sudah tidak bisa bersuara karena pita suaranya hilang, tetapi mereka tidak betul-betul kehilangan suara mereka melalui blog atau web tersebut," ujarnya.
Menurut Pankaj, masyarakat dan para pejabat negara akan lebih mendengarkan suara para korban rokok daripada suara para dokter.
Berdasar pengalamannya sebagai koordinator gerakan "Smoke Free Mumbai", para anggota parlemen lebih tertarik mendengarkan paparan para korban daripada statistik yang disampaikan para dokter.
"Cerita para korban akan lebih mengena dibandingkan statistik yang disampaikan dokter. Media massa juga akan lebih tertarik memberitakan cerita para korban daripada sekedar statistik," katanya. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BPS: Inflasi makanan, minuman, tembakau relatif tinggi pada Desember 2023
02 January 2024 17:37 WIB, 2024
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018