Gerilyawan Somalia Kuasai Kota Penting Selatan
Senin, 18 Maret 2013 6:16 WIB
Mogadishu, (Antara/AFP) - Gerilyawan garis keras Somalia menguasai lagi kota penting wilayah selatan Hudur, Minggu, kata penduduk, dan itu merupakan keberhasilan pertama Al-Shabaab dalam beberapa bulan ini dalam perang perebutan wilayah.
Gerilyawan Al-Shabaab yang bersenjata berat memasuki ibu kota wilayah itu, Bakool, pada Minggu pagi, mengambil alih kota itu secara damai hanya beberapa jam setelah kepergian pasukan Ethiopia yang sebelumnya menguasai kota tersebut, kata warga Hussein Madker.
"Hudur kini dikuasai lagi oleh gerilyawan Al Shabaab setelah pasukan Ethiopia pergi larut malam kemarin," kata Madker.
Pasukan Ethiopia meninggalkan kota itu Sabtu malam dengan persenjataan berat mereka, bersama pasukan Somalia sekutunya, serta warga sipil yang khawatir mengenai apa yang akan terjadi setelah penarikan itu.
Perebutan kembali kota itu menandai perkembangan penting bagi Al-Shabaab, yang selama beberapa bulan ini kehilangan sejumlah kota yang mereka kuasai dalam pertempuran dengan pasukan Uni Afrika (AU)berkekuatan 17.000 orang yang berperang bersama pasukan pemerintah Somalia.
Namun, belum jelas apakah pasukan Ethiopia ditarik karena tekanan Al-Shabaab dan untuk berapa lama gerilyawan itu ingin menguasai kota tersebut.
Hudur terletak sekitar 180 kilometer sebelah barat kota Baidoa, pangkalan utama Ethiopia di Somalia.
Pasukan dan tank Ethiopia memasuki Somalia pada November 2011 untuk memerangi gerilyawan Al-Shabaab dan merebut sejumlah kota utama, termasuk Baidoa.
Pada waktu yang bersamaan, pasukan Somalia dan pasukan AU yang berkekuatan 17.000 orang juga memerangi gerilyawan garis keras itu dan berusaha terhubung dengan daerah-daerah yang dikuasai pasukan Ethiopia.
Pasukan Kenya, yang menyerbu Somalia pada pertengahan Oktober 2011 sebelum kemudian disatukan ke dalam AMISOM, juga menekan dari arah selatan dan menguasai pangkalan Al-Shabaab serta kota pelabuhan utama Kismayo pada September.
Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut.
Pemerintah baru Somalia di bawah Presiden Hassan Sheikh Mohamud, yang mulai menjabat pada September 2012, mengakhiri kekuasaan transisi delapan tahun dukungan Barat yang dikotori korupsi.
Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama beberapa tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.
Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.
Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah yang saat itu dipimpin Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan beberapa tahun lalu.
Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menikah secara virtual dan belum pernah ketemu suami, pencari suaka asal Somalia dipindahkan ke Batam
24 March 2022 6:16 WIB, 2022
20 orang tewas usai bom mobil bunuh diri meledak di depan restoran Somalia
06 March 2021 12:19 WIB, 2021
Wanita buta pelaku bom bunuh diri yang menewaskan wali kota dan enam warga
10 August 2019 6:05 WIB, 2019
Sepak bola - Lima tewas, 10 cidera akibat bom meledak dalam pertandingan di Somalia
14 April 2018 13:21 WIB, 2018
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018