Rizal Ramli: Indonesia Butuh Pemimpin Berintegritas Tinggi
Rabu, 20 Februari 2013 18:24 WIB
Rizal Ramli
Jakarta, (Antara) - Mantan Menteri Kordinator Perekonomian Rizal Ramli menilai Indonesia ke depan membutuhkan figur pemimpin yang berjiwa negarawan, yakni memiliki integritas tinggi, kapasitas mumpuni, dan populer.
"Indonesia yang wilayah geografisnya sangat luas dan kaya sumber daya alam, tidak cukup jika pemimpinnya hanya populer," kata Rizal Ramli di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, jika calon pemimpin Indonesia ke depan hanya mengandalkan popularitas, Indonesia tidak akan menjadi negara maju di Asia, seperti Jepang, China, dan Korea.
Menjelang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden RI 2014, menurut dia, sudah saatnya muncul calon pemimpin di Indonesia yang memiliki integritas tinggi dan kapasitas mumpuni, tidak sekadar mengandalkan pencitraan.
"Calon pemimpin Indonesia ke depan harus mampu melakukan pencerdasan terhadap bangsa Indonesia," katanya.
Menurut dia, pemimpin yang mampu melakukan pencerdasan adalah figur yang memiliki integritas tinggi, kompetensi mumpuni, amanah, serta sudah teruji di institusi pemerintahan dan masyarakat.
Pendiri lembaga Econit Advisory Grup itu mengatakan bahwa Indonesia pernah memiliki pemimpin yang mampu melakukan pencerdasan, yakni proklamator Soekarno dan Hatta.
Pemimpin di negara tetangga yang mampu melakukan pencerdasan, menurut dia, adalah mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad dan mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kwan Yeuw.
"Jika Indonesia ingin maju, seperti Jepang, China, Korea, Singapura, dan Malaysia, hendaknya masyarakat memilih calon pemimpin yang memiliki integritas, kapasitas, dan populer," katanya.
Menurut Rizal, jika calon pemimpin Indonesia hanya mengandalkan pencitraan, politik Indonesia telah meniru politik Filipina yang lebih mengutamakan faktor kekayaan dan popularitas sehingga negaranya tidak menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Asia.
Indonesia dengan penduduk sekitar 240 juta dan heterogen, kata dia, tidak cukup jika calon pemimpinnya hanya mengandalkan baliho, spanduk, maupun iklan di media massa.
Pakar ekonomi ini merasa prihatin karena Indonesia yang kaya sumber daya alam seharusnya menjadi negara makmur, tetapi realitasnya masih banyak penduduknya hidup miskin. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Patut ditiru, tidak pulang kampung mahasiswa Aceh Barat terima Rp300.000/orang
07 April 2020 5:56 WIB, 2020
Paramedis di Aceh Barat yang tangani pasien corona akan dapat insentif, kata bupati
01 April 2020 13:31 WIB, 2020
Sebut Ahok "kelas Glodok" tak layak jadi petinggi BUMN, Rizal Ramli disentil anggota DPR RI
19 November 2019 11:48 WIB, 2019
Agam kerahkan 23 puskesmas layani pemeriksaan kesehatan petugas pemilu
24 April 2019 14:10 WIB, 2019