Menkes: Jangan ''Ada Dusta'' Antara Kesehatan dan BKKBN
Jumat, 15 Februari 2013 17:10 WIB
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi. (Antara)
Pekanbaru, (Antara) - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi meminta jangan lagi 'ada dusta' di antara dua instansi penting yakni dinas kesehatan dengan perwakilan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
"Jangan ada dusta di antara kita, sebab saya mengunjungi beberapa daerah dan sempat menanyakan apakah ada koordinasi antara dinas kesehatan dengan perwakilan BKKBN, yang justru disampaikan tidak ada," katanya di Pekanbaru, Jumat.
Ia mengatakan itu dihadapan seratusan peserta dalam acara Rakernas upaya percepatan, pencapaian target MDGs bidang KB dan kesehatan reproduksi menyikapi hasil sementara SDKI tahun 2012 di Pekanbaru.
Permintaan tersebut disampaikannya pula terkait 'lima rapor merah' yang dicap pada institusi BKKBN atas ketidakberhasilan dalam mengembangkan program KB dan kesehatan reproduksi.
Ia menilai penyebabnya antara lain karena melemahnya koordinasi.
Sedangkan rapor merah itu ditandai dengan tingginya angka ibu melahirkan dan bayi yang dilahirkan, serta tingginya peserta Pasangan Usia Subur (PUS) yang drop out berKB dan tingginya angka remaja putri usia 15-19 tahun melahirkan.
Menurut Menkes, sejauh ini memang melemahnya koordinasi antara perwakilan BKKBN dengan dinas kesehatan provinsi, kabupaten dan kota.
"Jadi tidak betul disampaikan oleh daerah ke Bapak Menko Kesra bahwa koordinasi sudah terjalin baik," katanya seraya menambahkan laporan seperti itu boleh saja hanya sekadar basa basi namun demikian kini laporan seperti itu tidak diperlukan lagi.
Sebab, kata Menkes, yang mempersatukan BKKBN dengan kesehatan bukan target MDGs akan tetapi adanya kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. "Rakyat harus didorong agar bisa hidup berkualitas," katanya lagi.
Oleh karena itu, Asisten Kesra pada pemerintah provinsi, kabupaten dan kota pegang kunci atas nama pemerintah. Seluruh jajaran kesehatan dan BKKBN bersatu mendukung pemerintah dalam menggaungkan kembali slogan "cukup dua anak" guna mengembangkan program KB.
Ia menambahkan bahwa tingginya angka kematian ibu melahirkan, bayi yang lahir meninggal itu bisa diubah jika keluarga miskin bisa menjadi nol.
"Yang paling penting adalah bagaimana daerah bisa membuat strategi dan segera bertindak," katanya. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pastikan MBG di desa berkualitas, Mendes Yandri: Mitra dapur jangan main-main
04 April 2026 8:20 WIB
Jangan tunda, Tiket KA Lebaran masih tersedia lebih dari 27 ribu tempat duduk
27 March 2026 13:41 WIB
Jangan sampai kehabisan, Tiket KA Divre Sumbar tinggal 104 ribu untuk libur lebaran 2026
18 March 2026 16:02 WIB
Wagub Vasko tegaskan validasi data korban bencana: Jangan ada warga yang terlewat
04 March 2026 7:48 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018