London, (Antara) - Aktivis dan penulis Alanda Kariza (25) yang menjadi wakil Indonesia pada World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2016, menyampaikan pandangannya bagaimana seharusnya melestarikan budaya, walau dunia sedang menyongsong Revolusi Industri yang keempat.
Alanda yang kelahiran Jakarta membentuk organisasi The Cure For Tommorow ketika ia berusia 15 tahun, menyampaikan pandangannya di WEF Annual Meeting 2016 yang diselenggarakan di Davos-Klosters, dari tanggal 20 hingga 23 Januari 2016.
"Senang sekali bisa terpilih untuk mewakili Indonesia di World Economic Forum Annual Meeting 2016, karena ini sebuah kesempatan yang sangat langka," ujar Alanda dalam suratnya kepada Antara London, Jumat.
Dikatakannya selama penyelenggaraan Forum itu ia juga berkesempatan berdiskusi dengan sejumlah pemimpin dunia, seperti Ratu Maxima dari Belanda, PM Kanada Justin Trudeau, dan filantropis Melinda Gates.
Harapannya, di masa mendatang akan banyak anak muda Indonesia bisa mendapatkan representasi yang lebih besar di Davos, utamanya anak muda Indonesia, pada tahun-tahun ke depannya.
Alanda yang menjadi wakil Indonesia pada acara World Economic Forum Annual Meeting 2016, sebagai bagian dari Global Shapers Community, sebuah wadah yang didirikan untuk anak muda berusia 30 tahun ke bawah dan memiliki kontribusi positif untuk lingkungan sekitarnya.
Setiap tahunnya, Global Shapers Community mengirimkan 50 delegasi anak muda untuk terlibat daam berbagai agenda di Davos, ujar finalis termuda dalam CosmoGIRL! of the Year 2006 dan menjadi wakil Indonesia untuk Global Changemakers dan menginisiasi Indonesian Youth Conference sebagai wadah bagi pemuda Indonesia di Inggris.
Menurut Alanda, pembicara lain dari Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2016, adalah Luhut Binsar Pandjaitan dan Thomas Lembong. (*)