Padang Aro, (Antara) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, Abu Suib mengungkapkan sekitar 85 persen sumur gali milik masyarakat di Kecamatan Sangir Balai Janggo (SBH) mengalami kekeringan akibat kemarau.


     "Berdasarkan laporan Pemerintahan Nagari setempat kekeringan itu sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir," kata dia di Padang Aro, Jumat.


     Dia mengatakan, saat ini warga mencari air di beberapa aliran sungai terdekat untuk kebutuhan sehari-hari.


     Seperti di Nagari Talao katanya, warga mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci ke aliran sungai Batang Jujuan.


     Selain itu warga Nagari Sungai Kunyit berbondong-bondong mengambil air ke aliran sungai Batang Ganeh.


     "Saya saja sekarang untuk mandi ke sungai karena sumur kering," katanya.


     Ia menyebutkan, untuk mengatasi krisis ini ke depan harus lebih digiatkan lagi Pamsimas.


     "Untuk Talao saat ini belum memiliki air pamsimas dan kemungkinan baru pada 2016 dikerjakan," katanya.


     Dia menyebutkan, untuk aparatur nagari dalam mencari sumber air pamsimas harus yang bisa bertahan lama jika kemarau.


     "Pihak nagari yang paling tahu tentang topografis daerahnya sehingga mereka bisa mencari sumber air yang bisa bertahan lama jika terjadi kemarau," katanya.


     Sementara itu Asisten I Setdakab Solok Selatan Basrial mengatakan, kemarau yang melanda saat ini merupakan bencana karena penyebabnya alam.


     "Kita imbau warga supaya menghemat penggunaan air dan menjaga sumber air yang masih tersedia," katanya.


     Wali Nagari Sungai Kunyit Rusnijal mengatakan, saat ini warganya mengambil air di aliran Sungai Batang Ganeh yang berjarak lima kilometer dari permukiman menggunakan jeriken dan galon besar.

     

"Hampir semua sumur warga di Sungai Kunyit kering sedangkan Sungai batang Pangian yang paling dekat juga kering sehingga warga harus mencarinya ke Batang Ganeh yang berjarak lima kilometer," katanya.


     Dia menyebutkan, untuk Sungai Kunyit terdapat sekitar 6.500 kepala keluarga dengan jumlah penduduk lebih dari 10 ribu.


     Warga Sungai Kunyit Eprisaldi (29) mengatakan, jika krisi air ini sudah terjadi satu bulan belakangan.


     "Yang paling parahnya sekitar tiga minggu ini karena sungai batang pangian yang paling dekat dengan pemukiman juga ikut mengering," katanya. (*)