Pekanbaru, (ANTARA) - Kemunculan kabut asap sebagai dampak kebakaran hutan atau lahan di berbagai kawasan di Sumatra mengancam daratan di Riau mengingat temperatur udara yang memanas sejak beberapa hari terakhir. "Panasnya suhu udara di Sumatra khususnya Riau berpotensi menimbulkan kebakaran hutan atau lahan penyebab dari kemunculan kabut asap," kata Analis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru Sanya Gautami di Pekanbaru, Selasa. Bahkan, menurut pantauan Satelite NOAA-18 pada Senin (7/1), kata dia, terdeteksi kemunculan titik panas (hotspot) yang diindikasi sebagai kebakaran hutan atau lahan sebanyak 31 titik untuk Sumatra. Untuk kemunculan terbanyak, demikian Sanya, berada di Riau dengan jumlah mencapai 23 titik. Khusus di Riau kemunculan titik panas tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, meliputi Kabupaten Bengkalis ada tiga titik, Siak (dua), Kampar (satu), Pelalawan (14), Indragiri Hilir (satu), Kuantan Singingi (satu) serta Kota Dumai juga terdeteksi satu titik panas. "Selain di Riau, titik panas cuka terdeteksi di Jambi ada sebanyak lima titik, kemudian Sumatra Utara dan Sumatra Selatan," katanya. Sanya mengatakan, pertumbuhan titik panas untuk wilayah Sumatra khususnya Riau sejak beberapa hari terakhir cenderung meningkat. Hal itu, menurut dia, disebabkan adanya gangguan badai tropis yang berpusat di Vietnam bagian Selatan. "Akibatnya, massa udara tertarik ke lokasi pusat badai sehingga di atas permukaan Sumatra termasuk Riau menjadi kering atau minim kelembaban," katanya. Sebenarnya, kata dia, pada Januari 2013, Riau masih memasuki puncak musim hujan dengan intensitas antara ringan hingga sedang. "Namun akibat gangguan badai tropis itu, hujan menjadi tertunda," katanya. (*/jno)