Kingston, (Antara/Xinhua-OANA) - Presiden AS Barack Obama pada Kamis (9/4) mengatakan di Kingston bahwa tak ada keputusan yang dibuat untuk mencabut Kuba dari daftar Negara Penaja Terorisme. Ia mengeluarkan pernyataan itu saat menjawab pertanyaan dari pers, setelah pertemuan dengan Perdana Menteri Jamaika Portia Simpson-Miller. "Ada proses yang melibatkan kajian mengenai apakah, atau tidak satu negara mesti dimasukkan ke dalam daftar Negara Penaja Terorisme. Itu sekarang diserahkan kepada Gedung Putih. Tim antar-lembaga kami akan meneliti semuanya dan kemudian menyerahkannya kepada saya dengan saran. Itu belum terjadi," kata Obama, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat. Presiden AS itu menambahkan ia tak berencana mengeluarkan pengumuman resmi pada Kamis mengenai apakah saran itu ada, "tidak sampai saya menerimanya." Mengenai hubungan AS-Kuba, Obama berkata, "Saya tak pernah meramalkan bahwa dalam sekejap satu malam semuanya akan berubah, bahwa tiba-tiba Kuba menjadi mitra diplomatik dengan AS seperti yang terjadi dengan Jamaika, misalnya. Itu akan memerlukan waktu." Namun ia menekankan kedua negara tersebut berada pada posisi "untuk bergerak maju ke arah pembukaan kedutaan besar di masing-masing negara". Presiden AS tersebut, yang menyampaikan harapannya, mengatakan akan ada serangkaian langkah dan tindakan untuk membangun kepercayaan dan memulai dialog murni sepanjang tahun ini dan sampai tahun depan. Meskipun begitu, ia mengakui akan ada "perbedaan mencolok" antara kedua negara sehubungan sistem pemerintah Kuba, berkaitan dengan posisinya mengenai beberapa masalah di wilayah itu. "Namun, kami yakin proses keterlibatan ini akhirnya akan mengarah, bukan hanya ke peningkatan hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba, tapi juga akan berakhir pada keuntungan rakyat Kuba dan memberi mereka jenis kesempatan sejenis kesempatan baik yang mungkin tak mereka miliki pada masa lalu." Dengan mengutip jajak pendapat belum lama ini yang memperlihatkan dukungan besar di dalam Kuba bagi proses itu, Obama berkata, "Saya kira ada keinginan besar di kalangan rakyat madani Kuba untuk bisa meninggalkan satu era dan bisa bergerak maju serta memiliki jenis hubungan dengan Amerika Serikat dan belahan lain dunia, yang mencerminkan kenyataan bahwa kami memiliki ekonomi global Abad 21, yang terpadu, dan mereka harus menjadi bagian dari itu." Pada Desember lalu, AS mengumumkan akan menormalkan hubungannya dengan Kuba, setelah memutuskan hubungan diplomatik mereka pada 1961 dan menjatuhkan embargo antara negara pulau tersebut. Banyak pihak menduga kedua negara itu akan membuka kembali kedutaan besar mereka sebelum pertemuan puncak ke-7 negara-negara Amerika --yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat dan Sabtu di Panama. Tapi tiga babak pembicaraan mengenai pemulihan hubungan diplomatik dan pembukaan kembali kedutaan besar telah gagal membuat kemajuan akibat kegagalan Washington untuk menghapuskan Havana dari daftar Negara Penaja Terorisme. (*/sun)