Kongo Ancam Serang Pemberontak Hutu Rwanda
Sabtu, 3 Januari 2015 22:39 WIB
Kinshasa, (Antara/Reuters) - Pemerintah Republik Demokratik Kongo (DRC) Jumat mengatakan pihaknya siap melancarkan operasi-operasi militer terhadap pemberontak Hutu Rwanda di daerah timurnya setelah sebagian besar tidak menepati batas waktu untuk menyerahkan senjata dan pulang ke negara mereka atau tinggal di pengasingan.
Ultimatum enam bulan yang ditetapkan para pemimpin kawasan itu berakhir Jumat tengah malam dan hanya 300 dari sekitar 1.500 anggota pemberontak menyerahkan senjata mereka, kata pemerintah Kongo.
Para petempur yang dikenal sebagai FDLR, termasuk sejumlah sisa milisi Hutu yang ikut serta dalam pembantaian tahun 1994 dan telah terlibat dalam dua dasa warsa aksi kekerasan di daerah timur yang kaya mineral sejak itu.
Opsi perlucutan senjata (pemberontak) itu dengan paksa kini tidak dapat dielakkan dan semua persiapan untuk melakukan itu telah dilakukan," kata pemerintah dalam satu pernyataan yang dibacakan di televisi.
Pernyataan itu tidak merinci lebih jauh tetapi pemberontak yang beroperasi di provinsi-provinsi Kivu Utara dan Selatan, yang terletak di perbatasan Kongo dengan Rwanda dan Burundi.
Jika serangan dilakukan, pemerintah Kongo akan mengandakan pada missi pemeliharaan perdamaian PBB, yang dikenal sebagai MONUSCO, dan Brigade Pasukan Intervensi, satu kesatuan dalam missi yang memiliki mandat untuk memburu pemberontak.
Brigade beranggotakan 3.000 personil mencatat keberhasilan penting ketika membantu pasukan Kongo mengalahkan pemberontak M23 Tutsi yang merebut daerah-darah luas Kivu Utara, dengan dukungan dari Rwanda, kata para pakar PBB.
Akan tetapi, prospek bagi satu operasi segera dan cepat terhadap FDLR rumit akibat persaingan antara negara-negara kawasan, daerah luas yang tidak datar yang pemberontak duduki dan sejarah masa lalu menyerang para warga sipil sebagai balasan apabila diserang.
Missi PBB itu juga terus berusaha mengejar dan melumpuhkan kelompok pemberontak ADF-NALU Uganda yang dituduh membunuh belasan orang di Kongo timur dalam pekan-pekan belakangan ini.
Kendatipun demikian, konvoi-konvoi internasional menuju daerah Danau Raya Jumat menyerukan segera bertindak, dengan mengatakan tidak ada pemberontak yang secara sukarela menyerahkan senjata mereka sehingga tidak ada pilihan kecuali opsi militer dan para petempur FDLR kini harus dilumpuhkan.
Rwanda mengatakan pemberontak telah mengambil kesempatan dari perluncutan senjata itu untuk mengonsolidasikan posisi-posisi mereka dan para pemimpin kawasan itu kini harus menanggapi ancaman-ancaman mereka.
Para pemimpin FDLR menyerukan perundingan dengan Rwanda tetapi Kigali berulangkali menolak tuntutan itu, menuduh mereka ingin menuntaskan pembunuhan terhadap warga Tutsi dan warga Hutu yang moderat yang mengklaim membunuh 800.000 orang 20 tahun lalu. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemerintah bersama warga Pariaman alihkan arus sungai ancam rumah pasca-bencana
09 February 2026 18:32 WIB
Pergantian Tahun, LDII Ingatkan Kemerosotan Moral Ancam Nilai-Nilai Kebangsaan
02 January 2025 18:02 WIB, 2025
Kompolnas: AKP Dadang sempat ancam tembak polisi jika halangi dirinya
25 November 2024 18:58 WIB, 2024
SPTI Pasaman Barat: Pembatasan muatan di 1.121 ruas jalan ancam perekonomian petani sawit
03 September 2024 9:52 WIB, 2024
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018