Jerusalem, (Antara/WAFA-0ANA) - Setidaknya tiga warga Palestina, termasuk seorang wanita, Kamis ditangkap oleh polisi Israel di kompleks Masjid al-Aqsa di Jerusalem, setelah tur provokatif fanatik Yahudi di tempat suci Islam itu, menurut koresponden WAFA. Latifa Abdel-Latif, Abdal-Afu Zeghair, dan Tamer Shalata ditangkap oleh polisi setelah ketiganya berusaha untuk menangkis kunjungan provokatif kelompok ekstremis Yahudi ke dalam kompleks Al-Aqsa. Mereka dibawa ke kantor polisi terdekat. Sebelum penangkapan, sekitar 30 warga fanatik Yahudi, di bawah pengamanan ketat dari polisi, masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa dan melakukan serangan verbal terhadap jamaah perempuan di dalam kompleks. Wanita Palestina, Latifa, secara lisan dilecehkan saat protes di luar kompleks Masjid suci itu, melawan perintah Israel menolak sementara masuknya mereka ke dalam masjid. Wisata harian provokatif oleh pemukim Yahudi ke Masjid Al-Aqsa, tempat paling suci ketiga dalam Islam, adalah salah satu pemicu utama di balik bentrokan berulang kali antara anak-anak muda di Yerusalem dan polisi Israel. Pada Rabu, seorang pemukim Yahudi secara provokatif mengunjungi kompleks itu, bersama dengan banyak kelompok fanatik lainnya, meneriakkan slogan-slogan anti-Islam dan menghina Nabi Muhammad SAW, suatu tindakan dilarang oleh Islam. Ratusan warga Palestina, termasuk anak-anak, ditangkap di Jerusalem Timur yang diduduki selama tindakan keras Israel yang ditargetkan pada aktivis Palestina yang terlibat dalam protes terhadap kunjugan warga fanatik Yahudi ke Masjid al-Aqsa. Menurut kelompok hak asasi tawanan Palestina Addameer, antara Juni sampai September 2014 saja, setidaknya 26 anak diperintahkan untuk berada di bawah tahanan rumah selama periode berkisar antara satu sampai sepekan. Sebagian besar berada di pertengahan usia remaja, namun anak terkecil baru berusia 12 tahun. Anggota komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Ahmad Queri, mengutuk serangan Israel dan memperingatkan bahwa eskalasi tersebut terhadap Jerusalem dan Masjid al-Aqsa dapat menyebabkan "ledakan" dalam status quo dan menarik kota ini menjadi siklus kekerasan. Pada 8 Oktober, Presiden Mahmoud Abbas memperingatkan pemerintah Israel terhadap mengubah konflik politik saat ini menjadi salah satu konflik keagamaan. "Setiap hari, kita melihat orang-orang [ekstremis Yahudi] berusaha untuk masuk ke Masjid al-Aqsa dengan segala cara sehingga memaksa [rakyat Palestina] menerima apa yang mereka inginkan sebagai status de facto, guna memaksakan pembagian temporal dan spasial Masjid, di bawah dalih bahwa mereka juga memiliki [hak] di dalamnya," kata Abbas seperti dikutip. (*/sun)