Fidel Castro Raih Penghargaan Perdamaian Konfusius Tiongkok
Kamis, 11 Desember 2014 19:52 WIB
Beijing, (Antara/AFP) - Fidel Castro menerima penghargaan Nobel Perdamaian versi Tiongkok, kata laporan, Kamis. Surat kabar yang dekat dengan Partai Komunis memuji sumbangsih penting mantan pemimpin Kuba itu pada perdamaian dunia.
Castro mengalahkan lebih dari 20 calon, termasuk Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, dan Organisasi Kerjasama Shanghai, kelompok kawasan pimpinan Moskow dan Beijing, untuk merebut Penghargaan Perdamaian Konfusius tahun ini, kata laporan surat kabar pemerintah "Global Times".
Ikon revolusioner Kuba itu dipilih oleh sembilan juri dari kelompok 16 pakar dan akademisi, kata surat kabar itu.
Penghargaan bayangan itu, Penghargaan Konfusius, dimulai pada tahun 2010, saat tiba-tiba diumumkan oleh panel dua hari sebelum pembangkang Tiongkok yang dipenjara, Liu Xiaobo, dianugerahi
penghargaan Nobel yang membuat marah Beijing. Kebetulan itu memicu spekulasi jika penghargaan itu dibentuk dengan arahan pemerintah.
Seorang mahasiswa pertukaran Kuba menerima penghargaan tahun ini atas nama Castro di sebuah upacara pada Selasa, sehari sebelum Malala Yousafzai dan Kailash Satyarthi menerima Penghargaan Nobel Perdamaian di Oslo.
"Saat berkantor, Castro tidak menggunakan kekerasan atau militer untuk menyelesaikan perselisihan hubungan internasional, terutama dengan Amerika Serikat," menurut "Global Times".
"Setelah pensiun, ia telah aktif bertemu dengan para pemimpin dan kelompok dari seluruh dunia dan telah membuat kontribusi penting untuk menekankan perlunya menghindari perang nuklir," tambahnya.
Sejak pensiun pada tahun 2006 akibat mengalami masalah kesehatan yang hampir fatal, Castro, 88, telah menghabiskan waktu luangnya untuk menulis buku dan artikel untuk media resmi di Kuba, yang kini dipimpin oleh adiknya, Raul.
Pada tahun 2010, tokoh Taiwan, Lien Chan, menerima Penghargaan Perdamaian Konfusius pertama, pada konferensi pers yang kacau, meskipun kantor mantan wakil presiden itu menyangkal mengetahui hal itu.
Panitia penghargaan membantah keterkaitan dengan pemerintah, namun ketua eksekutif penghargaan itu Liu Haofeng kemudian mengakui jika hal itu telah diatur oleh sebuah asosiasi yang diawasi oleh Kementerian Kebudayaan Tiongkok.
Dalam langkah menambah kebingungan terkait penghargaan itu, pada tahun berikutnya kementerian memerintahkan penyelenggara untuk menghentikan penghargaan itu, namun kelompok akademisi memaksakan rencana mereka dan memberikan penghargaan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
Mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan dan ilmuwan pertanian Tiongkok Yuan Longping berbagi penghargaan pada tahun 2012, dan Yi Cheng, seorang guru Zen yang merupakan Kepala kehormatan dari Asosiasi Budha Tiongkok, menerima penghargaan itu tahun lalu. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pelatih Shakhtar Donetsk tak sabar tantang Inter Milan di babak semifinal Liga Europa
12 August 2020 6:03 WIB, 2020
Dubes Kuba ingin perkuat kerja sama pertukaran kebudayaan dengan Indonesia
27 September 2019 6:30 WIB, 2019
Presiden Jokowi Sampaikan Belasungkawa Terkait Wafatnya Fidel Castro
27 November 2016 20:40 WIB, 2016
Fidel Castro Muncul Dipublik untuk Pertama Kalinya dalam 14 Bulan Terakhir
05 April 2015 13:01 WIB, 2015
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018