Jakarta, (Antara) - Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Bobby R Mamahit memperingatkan cuaca buruk merupakan hal yang tidak dapat ditoleransi, karena kapal tidak akan berangkat, meski kebutuhannya mendesak selama musim liburan Natal 2014 dan Tahun Baru 2015. "Soal cuaca, tidak ada toleransi. Pilihannya mau ditunda atau merayakan Natal di dasar laut," kata Bobby dalam diskusi "coffee morning" di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis. Bobby juga telah memperingatkan kepada pengelola pelabuhan unit pelaksana teknis (UPT) untuk tidak mempertanyakan keberangkatan apabila terjadi cuaca buruk. "Tidak usah berpikir jadi berangkat apa tidak, pokoknya kalau sudah urusan cuaca, tidak ada toleransi sedikit pun," katanya. Ia menjelaskan biasanya kapal dilarang untuk berlayar ketika gelombang sudah mencapai tiga hingga lima meter. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dia mengatakan, wilayah yang perlu diantisipasi yakni wilayah Utara Jawa, Selat Sunda Bagian Selatan, hingga wilayah perairan di Sulawesi. "Wilayah-wilayah tersebut sudah berwarna merah muda menuju ke ungu artinya sudah tiga hingga lima meter ke atas," katanya. Bobby juga mengimbau untuk tidak mengangkut penumpang yang berlebih mengingat pengalaman-pengalaman sebelumnya, kapal yang seharusnya berkapasitas maksimal oleh 2.000 penumpang, namun dinaiki hingga 6.000 penumpang. Ia juga mengatakan tidak ada kenaikan tarif angkutan laut karena sudah sesuai dengan pemberlakuan tarif batas atas dan batas bawah, selain itu angkutan penumpang menggunakan BBM bersubsidi, kecuali angkutan barang yang menggunakan BBM tak bersubsidi. Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub memperkirakan 908.974 penumpang angkutan laut selama liburan Natal 2014 dan Tahun Baru 2015 naik tiga persen sebanyak 26.475 penumpang dibanding pada 2013 sebanyak 882.499 penumpang. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, lanjut dia, pihaknya akan memaksimalkan potensi armada angkutan laut, di antaranya 25 unit kapal PT Pelni (24 kapal khusu penumpang, 1 Roro), 84 unit armada perintis, 29 Roro Swasta dan 70 kapal penumpang swasta. Bobby mengatakan, selain itu pihaknya telah membentuk tim penyiapan, pemantauan dan pengendalian melalui Posko Perhubungan Laut (Hubla) mulai 18 Desember 2014 hingga 8 Januari 2015 yang memantau 52 titik pelabuhan, mulai dari Belawan, Teluk Bayur, Tanjung Priok, Ambon, Jayapura dan Merauke. (*/sun)