Pembangunan Permukiman Yahudi "Bertentangan" dengan Perdamaian
Selasa, 28 Oktober 2014 13:28 WIB
Washington, (Antara/AFP) - Amerika Serikat mengecam Israel karena berniat untuk membangun 1.000 rumah lagi untuk pemukim Yahudi di timur Yerusalem, dan AS menilai tindakan itu "tidak sesuai" atau bertentangan dengan upaya perdamaian.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen Psaki pada Selasa mengatakan pemerintah Amerika Serikat "sangat prihatin" mendengar laporan tentang langkah pembangunan 1.000 unit rumah Yahudi oleh Israel.
Selain itu, ia mengatakan pejabat kedutaan AS sedang melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan para pemimpin Israel untuk mencari informasi lebih lanjut.
"Kami akan terus membuat posisi kami benar-benar jelas bahwa kami memandang aktivitas pemukiman itu sebagai langkah yang tidak sah dan jelas menentang unilateral dan akan berdampak pada masa depan Yerusalem," kata Psaki.
"Para pemimpin Israel telah mengatakan mereka akan mendukung upaya menuju solusi dua negara (Israel - Palestina), tetapi mereka bergerak maju dengan jenis tindakan yang bertentangan dengan upaya menuju perdamaian," tambahnya.
Pemerintah AS berulang kali mengecam langkah pembangunan permukiman Yahudi, baik di wilayah Tepi Barat maupun di timur Yerusalem, kota yang diklaim oleh pihak Israel dan Palestina sebagai ibukota masa depan negara mereka dalam setiap perjanjian damai.
Namun, pemerintah AS gagal untuk bertindak sesuai kata-katanya mengingat terancam konsekuensi bertentangan dengan Israel, dan AS tetap menjadi sekutu utama negara Yahudi itu.
"Hubungan antara kami (Israel-AS) tak tergoyahkan," Psaki menegaskan.
"Ada kalanya kami tidak setuju dengan tindakan pemerintah Israel, termasuk ... masalah pembangunan permukiman, di mana kami memiliki keprihatinan yang mendalam tentang beberapa langkah-langkah yang diambil pemerintah Israel," kata dia.
"Kami menyatakan ketidaksetujuan itu kepada pihak Israel, tetapi itu tidak berarti bahwa kami tidak memiliki hubungan yang kuat dan tangguh yang terus berlanjut," ujar Psaki.
Israel merebut timur Yerusalem selama Perang Enam Hari pada 1967 dan kemudian mencaplok wilayah tersebut, di mana langkah itu tidak pernah didukung oleh masyarakat internasional.
Sebelumnya, Pemerintah Israel telah memberikan lampu hijau untuk rencana pembangunan 1.000 unit rumah tambahan untuk pemukim baru Yahudi di timur Yerusalem, wilayah Arab yang dicaploknya, kata seorang pejabat Israel.
"Pemerintah telah memutuskan untuk memajukan rencana pembangunan lebih dari 1.000 unit rumah di Yerusalem -- sekitar 400 di Har Homa dan sekitar 600 di Ramat Shlomo," kata seorang pejabat di kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia mengacu pada dua permukiman yang berada di timur Yerusalem.
Namun, pejabat itu tidak menjelaskan dan menolak untuk berkomentar tentang dampak politik dan diplomatik dari langkah tersebut, terutama saat masyarakat Palestina dan internasional sudah dibuat marah dengan masuknya para pemukim Yahudi belum lama ini ke Silwan, lingkungan di timur Yerusalem, di mana telah terjadi bentrokan hampir setiap malam selama berbulan-bulan.
Pejabat Israel itu juga menyebutkan bahwa rencana pembangunan akan "dimajukan untuk proyek-proyek infrastruktur di Tepi Barat yang akan mencakup jalan-jalan bagi rakyat Palestina". (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
TNI AU bersihkan permukiman warga dari lumpur pascabanjir di Tabing Banda Gadang
28 January 2026 6:41 WIB
Harimau muncul di permukiman warga Agam, Pemnag nyalakan sirene ambulans untuk menghalau (Video)
21 January 2026 15:28 WIB
Didukung Kementerian PKP, Pemkot Padang tata permukiman kumuh di Pasia Nan Tigo
19 January 2026 19:02 WIB
Wali Kota Padang dan Dirjen KP tinjau lokasi banjir bandang di Lubuk Minturun
03 December 2025 19:18 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018