Jakarta, (Antara) - Konsultan properti internasional, Jones Lang LaSalle (JLL) menilai pertumbuhan properti kondominium atau apartemen tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro karena hingga saat ini masih terjadi peningkatan permintaan terhadap jenis properti tersebut. "Pasar (kondominium) tetap mempunyai persepsi yang positif walau kondisi ekonomi makro dalam negeri bergerak melamban," kata Head of Residential JLL, Luke Rowe di Jakarta, Rabu. Ia menambahkan persepsi positif pasar tersebut juga tidak terlalu terdampak oleh sentimen keadaan politik yang belum terlalu baik, namun pasar properti di sektor hunian kondominium masih diwarnai dengan animo pembeli yang tetap tinggi. Berdasarkan data JLL, penyerapan pasar hunian kondominium pada kuartal III 2014 mencapai 4.900 unit, atau terjadi peningkatan sekitar 20 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. "Sehingga secara umum, jumlah kumulatif penyerapan kondominium dalam tiga kuartal pertama 2014 mencapai angka sekitar 12.000 unit," ujarnya. Sedangkan penyerapan penjualan hunian kondominium mayoritas terjadi pada proyek kondominum kelas menengah ke bawah. Sebelumnya, Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mendorong sejumlah pemerintah daerah untuk memprioritaskan pembangunan rumah susun daripada pembangunan rumah tapak guna mengoptimalkan lahan serta mengantisipasi makin banyaknya jumlah penduduk. "Kemenpera mendorong kembali pemda untuk memprioritaskan pembangunan rusun ketimbang rumah tapak, khususnya di daerah kota besar yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi," kata Sekretaris Kemenpera, Rildo Ananda Anwar. Menurut dia, prioritas terhadap pembangunan rusun selain dapat menghemat pemanfaatan lahan untuk tempat tinggal, juga menjadi terobosan di sektor perumahan agar masyarakat bisa lebih dekat tinggal di kawasan perkotaan. Ia berpendapat bahwa pemda pada masa mendatang akan semakin sulit menemukan lahan yang cukup luas dengan harga yang terjangkau di kota-kota besar yang terdapat di Indonesia. Untuk itu, lanjutnya, dengan membangun rusun, pemda dapat menyediakan hunian yang lebih banyak untuk masyarakat, khususnya mereka yang kurang mampu. "Mungkin untuk wilayah Kalimantan masih ada lahan yang cukup luas untuk perumahan. Akan tetapi, kalau wilayah Jakarta, Bandung serta kota besar lainnya, tentunya rusun menjadi pilihan untuk hunian yang terbaik bagi masyarakat," jelas Rildo. Pemda juga diharapkan mulai menghitung alokasi anggaran untuk program perumahan di daerahnya masing-masing karena makin bertambahnya penduduk, akan berdampak pada kebutuhan hunian yang cukup besar pula.(*/sun)