Kota Padang (ANTARA) - Pakar ekonomi dari Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat (Sumbar) Efa Yonnedi menyebut, proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana di tiga provinsi terdampak bisa memicu pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
"Dengan dimulainya kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi maka akan ada pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi dari sektor belanja," kata pakar ekonomi dari UNAND Efa Yonnedi di Kota Padang, Selasa.
Hal tersebut disampaikan menyikapi potensi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pasca-bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di akhir 2025.
Eks Konsultan Bank Dunia tersebut mencontohkan ketika Provinsi Sumbar diguncang gempa bumi pada 2009, pertumbuhan ekonomi mulai membaik ketika masuk pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Namun, tidak dapat dipungkiri pada jangka pendek kekacauan yang diakibatkan bencana gempa bumi menyebabkan pertumbuhan ekonomi di Ranah Minang sempat terkoreksi. Kondisi tersebut dapat dimaklumi dan umumnya terjadi di setiap daerah setelah dilanda bencana.
"Di awal-awal pertumbuhan ekonomi kita memang terkoreksi, tapi dengan adanya belanja di masa rehabilitasi dan rekonstruksi pertumbuhan ekonomi mulai terlihat," ucapnya.
Oleh sebab itu, Efa yang juga Rektor UNAND optimistis pertumbuhan ekonomi di tiga provinsi terdampak bencana ekologis bisa segera pulih dan tumbuh seiring masa rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan pemerintah.
Meskipun demikian, Efa menggarisbawahi khusus di Kabupaten Aceh Tamiang dan beberapa daerah yang terdampak sangat parah, butuh waktu dan intervensi lebih agar pertumbuhan ekonomi dapat berjalan sesuai target.
"Saya melihat khusus di Aceh memang agak berat, dan kita punya waktu tiga tahun untuk menormalisasi agar logistik dan infrastruktur ekonomi bisa secepatnya pulih," jelas dia.
