Jakarta, (Antara) - Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Asep Karsidi mengatakan peta dasar geospasial menunjang perencanaan tata ruang daerah. "Untuk masalah perencanaan yang detil diperlukan peta dasar geospasial 1: 5.000," ujar Asep di Jakarta, Selasa. Skala 1: 5.000 mempunyai makna satu centimeter di peta sama dengan 5.000 centimeter yang sebenarnya. Oleh sebab itu, informasi geospasial sangat penting untuk menentukan bagaimana tata ruang kota ke depannya. Informasi geospasial adalah data geospasial yang sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian. Sedangkan data geospasial adalah data tentang lokasi geografis, dimensi atau ukuran, karakteristik objek alam atau buatan manusia yang berada dibawa, pada atau di atas permukaan bumi. BIG telah menyelesaikan Peta Rupa Kebumian Indonesia (RBI) yang telah dimutakhirkan pada 2012 dalam bentuk digital, seamless dan mutakhir dengan skala 1: 250.000. "Peta untuk skala 1: 500.000 akan selesai pada akhir 2014." lanjut dia. Semakin kecil skala, sambung dia, maka peta tersebut akan semakin detil. Sedangkan untuk skala 1: 25.000 tersedia untuk Sulawesi. Sedangkan untuk skala 1:10.000. 1 : 15.000 dan 1: 1000 juga sudah ada di Bandung Utara. "Untuk peta yang detil perlu terobosan yakni kerja sama dengan pemerintah setempat. BIG tidak mampu jika bekerja sendiri," kata laki-laki ramah senyum ini. BIG perlu kerja sama dengan pemerintah daerah karena pekerjaan membuat peta geospasial tidak semudah sensus penduduk. Hal itu dikarenakan perlu dilakukan pengukuran maupun penginderaan jauh. Asep menilai kerja sama dengan daerah, lanjutnya, sangat mendesak untuk dilakukan karena pentingnya peta geospasial itu. "Perencanaan pada masa depan harus memanfaatkan "geodesign" sebagai alat. "Geodesign" merupakan metode rancang bangun interatif yang melibatkan masukan dari pemangku kepentingan, model geospasial, skenario, dan masukan untuk mendukung rancang bangun secara holistik dan keputusan yang bijak," terang dia. (*/jno)