PBB, AS, (Antara/AFP) - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa, Jumat, menyerukan gerilyawan Syiah untuk meninggalkan kota utara Yaman, Amran, yang mereka rebut dalam kemajuan besar menuju ibu kota. Dalam deklarasi bulat, 15 anggota dewan mengancam menargetkan sanksi terhadap mereka yang menghambat proses transisi politik di Yaman, dan memperbarui dukungan mereka terhadap Presiden Abdrabuh Mansur Hadi. Mereka menyatakan "keprihatinan mendalam terhadap kerusakan serius situasi keamanan" dan "penyesalan mendalam" terhadap lebih dari 150 orang yang tewas. Para anggota dewan keamanan juga menuntut bahwa "suku Huthi, semua kelompok bersenjata dan pihak yang terlibat dalam kekerasan untuk menarik diri dan melepaskan kontrol atas Amran, menyerahkan senjata dan amunisi yang dijarah di Amran kepada otoritas nasional yang loyal kepada pemerintah," kata satu pernyataan. Menyerukan kepada semua pihak untuk melucuti dan "cepat" melaksanakan gencatan senjata yang sudah ada dalam perjanjian, para anggota juga meminta unit-unit militer untuk "tetap berkomitmen untuk kewajiban netralitas mereka dalam melayani negara." Amran, 30 mil (50 kilometer) di utara Sanaa, sejak Februari menjadi ajang pertempuran antara pasukan pemberontak Huthi dan suku-suku di kedua sisi, ketika para pemberontak maju dari kubu gunung mereka menuju ke ibu kota. Rumah bagi sekitar 120.000 orang, kota ini jatuh ke tangan gerilyawan pada Selasa, setelah pertempuran tiga hari yang telah memaksa mengungsikan sekitar 10.000 keluarga, menurut Bulan Sabit Merah. Dengan merebut Amran, para gerilyawan telah membuat kemajuan besar menuju ibu kota Sanaa, dan menjadikan ancaman bagi pemerintah Hadi. (*/jno)