Tiga Kawasan Situs Papua Berpotensi Warisan Dunia
Minggu, 22 Juni 2014 12:57 WIB
Jayapura, (Antara) - Kepala Balai Arkeologi Jayapura Muhammad Irfan mengatakan ada tiga kawasan situs yang berpotensi menjadi warisan dunia di Provinsi Papua Barat sesuai hasil penelitian.
"Penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Jayapura di sejumlah tempat atau kawasan di Papua dan Papua Barat hingga saat ini terdapat 310 situs. Tiga di antaranya berpotensi menjadi warisan budaya dunai," kata Muhammad Irfan di Jayapura, Papua, Minggu.
Ia mengatakan, ke tiga kawasan situs berpotensi warisan dunia itu yakni kawasan situs seni cadas Misool di Kabupaten Raja Ampat, kawasan situs seni cadas Kokas, Kabupaten Fakfak dan kawasan situ seni cadas di Kabupaten Kaimana yang terdapat di Teluk Bicari, Selat Maimai dan Teluk Triton.
"Ketiga tempat ini sangat berpeluang untuk menjadi kawasan warisan dunia. Hanya saja perlu pengkajian lebih lanjut dan ada dorongan serta perhatian dari masyarakat serta pemerintah daerah setempat," katanya.
Untuk menjadi kawasan situs warisan dunia, kata alumnus Antropologi Universitas Indonesia itu, memiliki sejumlah kriteria diantaranya kawasan situ itu bisa menunjukkan hasil karya adiluhung.
Menunjukkan interaksi penting nilai kemanusiaan terhadap perkembangan arsitektur atau teknologi, memiliki keunikan dan mewakili tradisi yang luar biasa.
Lalu, merupakan contoh menonjol dari karya arsitektur atau teknologi serta merupakan contoh menonjol dari pemukiman tradisional, dan secara langsung terkait dengan peristiwa atau tradisi kehidupan setempat.
"Semua kriteria ini harus terpenuhi jika ingin diusulkan menjadi salah satu warisan dunia," katanya.
Selain itu ketiga kawasan situs di atas tadi, kata Irfan, ada sejumlah kawasan situs di Papua dan Papua Barat yang bisa menjadi warisan nasional, diantaranya situs Penginjilan di Pulau Mansinam, Manokwari, situs Megalitik Tutari di Sentani, situs Pemukiman Tua Yemokho di Sentani, situs Neolitik Bukiit Srobu di Kota Jayapura.
"Situs Arca Polinesia di Kabupaten Jayapura, situs Prasejarah Biak, situs Gua Jepang Binsari Biak, situs Masa Kolonial di Boven Digul, situs Kolonial Mc Arthur di Kabupaten Jayapura, dan situs Kolonial di Merauke," katanya.
Irfan juga menyampaikan perlunya penelitian terpadu secara bersama atau terpisah pada kawasan situs-situs tersebut dengan sejumlah instansi terkait, kampus, pemerintah setempat, lsm dan dengan dukungan media. Sehingga pelestariannya tetap terjaga dengan baik.
Dan Sabtu (21/6) pekan kemarin, Balai Arkeologi Jayapura juga telah menggelar seminar nasional arkeologi guna peringati hari purbakala yang ke 101 tahun, yang jatuh pada 14 Juni.
"Seminar ini bertujuan untuk memberikan sosialiasi dan pemahaman kepada semua pemangku kepentingan yang mengangkat judul prospek integrasi pengembangan kawasan situs arkeologi untuk warisan nasional dan dunia," katanya.
Informasi yang diterima Antara Jayapura terkait seminar nasional arkeologi itu dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan mulai dari akademisi, pemerintah setempat, Pusat Arkeologi Nasional, Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate, dan Balai Pelestarian Nilai Budaya Jayapura. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tinjau kawasan industri di Indramayu, Menteri Nusron pastikan lahan tidak masuk ke LSD
28 April 2026 15:15 WIB
Pemprov Sumbar dukung upaya menjadikan kawasan Geopark Silokekmendapat pengakuan dunia
24 April 2026 17:12 WIB
Wamen Ossy dukung pengembangan kawasan TSTH2, tekankan pentingnya kepastian tanah dan tata ruang
08 April 2026 14:57 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018