Washington, (Antara/AFP) - Para pejabat Irak telah secara pribadi meminta pemerintah Presiden Amerika Serikat Barack Obama untuk mempertimbangkan serangan udara potensial menargetkan para gerilyawan, kata seorang pejabat Barat Rabu. Pemerintahan Obama sedang menimbang beberapa kemungkinan tawaran bantuan militer kepada Baghdad, termasuk serangan pesawat tak berawak, kata pejabat itu kepada AFP dengan syarat tak disebut jatidirinya. Tetapi Baghdad belum merumuskan permintaan resmi, kata pejabat pertahanan AS itu. Dihadapkan dengan serangan spektakuler Negara Islam Irak dan Mediterania (ISIL) di Mosul dan penyitaan wilayah besar di Irak utara dan utara-tengah, Washington berkomitmen untuk "bekerja sama dengan pemerintah Irak dan pemimpin di Irak untuk mendukung pendekatan terpadu terhadap agresi lanjutan ISIL itu," kata juru bicara Departemen Luar Negeri, Jen Psaki kepada wartawan. Pemerintahan Obama telah lama memperingatkan bahaya yang ditimbulkan oleh militan yang sekarang menyapu ke arah Baghdad, menurut Psaki. Seorang pejabat AS mengatakan bahwa pemerintahan Obama sedang mempertimbangkan mengirimkan "persenjataan lahi" ke Irak setelah ISIL merebut kota-kota Mosul dan Tikrit. Tetapi tidak ada rencana saat ini untuk mengirim tentara AS kembali ke Irak, di mana sekitar 4.500 tentara Amerika tewas dalam konflik pahit itu. Amerika Serikat telah mempercepat pengiriman senjata ke Irak tahun ini, dan menggenjot pelatihan pasukan keamanan Irak, sementara Kongres mempertimbangkan meminta untuk lebih lanjut $ 1 miliar dalam rangka bantuan militer. Pada Januari, Washington menjual 24 helikopter serang Apache ke Baghdad, disamping sekitar 300 rudal Hellfire anti-tank dan dua dari sekitar 36 F-16 pesawat tempur, kata juru bicara Pentagon. Beberapa senjata telah diserahkan dan orang lain harus berada di jalan mereka dalam beberapa bulan mendatang. Baru satu miliar dolar AS mencakup ketentuan-ketentuan untuk sekitar 200 kendaraan Humvee dan pesawat 24 AT-6C Texan II, tetapi kemungkinan diperlukan waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan persetujuan anggota parlemen. Sejak pasukan AS meninggalkan Irak pada akhir 2011, Washington telah memberikan bantua pelatihan kepada militer Irak untuk misi kontraterorisme, termasuk di Jordan sejak awal tahun ini. (*/sun)