Kathmandu, (Antara/Xinhua-OANA) - Banyak ahli dari masyarakat pendaki gunung telah menyampaikan kekhawatiran bahwa makin banyak pendaki makmur akan menggunakan helikopter untuk sampai ke puncak Gunung Everest (Qomolangma). Tindakan tersebut dapat mengakibatkan komersialisasi "pendakian" puncak gunung tertinggi di dunia tersebut. Musim pendakian Gunung Everest tahun ini tentunya sepi kalau bukan karena Wang Jing, yang telah mungkin telah menjadi orang pertama yang mendaki sendirian ke puncak Qomolangma. Namun prestasi perempuan pendaki dari Tiongkok tersebut telah diselimuti oleh kontroversi sebab ia diduga menggunakan helikopter dalam melalui sebagian jalan pendakian. "Wang adalah seorang pendaki yang sangat kuat tapi setiap orang mengetahui ia menggunakan helikopter untuk mencapai Base Camp 2. Ada banyak jutawan lain di luar sana yang dapat menggunakan helikopter. Jika Pemerintah Nepal tak berbuat apa-apa mengenai itu, saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada masa depan," kata Mingma Sherpa, Direktur Pelaksana Seven Summit Treks, pada Kamis (29/5) kepada Xinhua. Wang Jing, seorang pendaki kenamaan, juga adalah pemilik perusahaan pakaian luar rumah Tiongkok dengan nilai jutaan dolar As dan penulis buku mengenai pendakian gunung. Madhu Sudan Burlakoti, Kepala Divisi Industri Kementerian Pariwisata Nepal, mengatakan penyelidikan sedang dilakukan untuk mengetahui apakah perempuan Tionghoa itu benar menggunakan helikopter, atau tidak, untuk sampai ke puncak tinggi setelah salju longsor mematikan pada 18 April membuat sebagian jalur pendakian tak bisa dilalui. Wakil dari Fishtail Air, perusahaan helikopter yang diduga menyewakan helikopter kepada Wang, tak bersedia mengomentari masalah tersebut, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu malam. Namun, media setempat melaporkan Kapten Maurizio Folini dari Fishtail Air telah memberitahu Montagna, satu saluran televisi Italia, pada 15 Mei ia telah melakukan penerbangan untuk membawa Wang ke Camp 2. Ia menambahkan dirinya telah menyarankan Wang agar menghindari penggunaan helikopter atas nama pendakian. Wang (41), yang menyelesaikan pendakian pada 23 Mei, membantah ia telah menggunakan helikopter untuk mendaki gunung tertinggi di dunia tersebut, tapi mengakui staf pendukung dan logistik telah dibawa melalui udara. Namun banyak ahli tetap ragu. "Saya kira tak mungkin dia mendaki melalui Khumbu Icefall seperti pernyataannya sebab semua tangga yang terpasang dan tambang telah dicabut," kata Ang Tshering Sherpa, Presiden Perhimpunan Pendaki Gunung Nepal. Ekspedisi Wang ke Gunung Everest adalah bagian dari upaya rekor dunia untuk mendaki puncak tertinggi di tujuh benua dalam enam bulan. Wang direncanakan meraih sertifikatnya dari Pemerintah Nepal pada 16 Juni tapi setelah kontroversi itu, tanda tanya besar menggantung mengenai prestasinya. "Berdasarkan etika pendakian gunung, menaklukkan Gunung Everest berarti pendakian dari Base Camp --di kaki gunung-- ke puncak gunung tersebut. Kalau ia menggunakan helikopter, Federasi Panjat dan Pendakian Gunung Internasional takkan mengakui prestasinya," kata Ang Tshering Sherpa, yang telah bekerja di industri pendakian gunung selama setidaknya 42 tahun. Pemerintah Nepal mengizinkan penggunaan helikopter di atas Everest Base Camp, yang berada sekitar 5.400 meter, tapi hanya untuk pertolongan darurat atau mengangkut perlengkapan. Selama beberapa hari setelah salju longsor yang menewaskan 16 orang Sherpa dan mengakibatkan dibatalkannya lebih dari 15 ekspedisi dengan sebanyak 300 klien, banyak orang di dalam masyarakat pendaki Gunung Everest telah membahas kemungkinaan penggunaan helikopter untuk mengangkut pasokan di atas tempat salju longsor guna mengurangi resiko. Pada 14 Mei 2005, pilot uji-coba Didier Delsale (48), dari perusahaan Prancis Eorocopter, melakukan penerbangan bersejarah ketika ia mendaratkan helikopter dengan mesin turbo AS350 B3 di puncak gunung tertinggi di dunia itu. Penerbangan solinya memecahkan rekor tak resmi bagi pendaratan helikopter tertinggi, tapi sekalipun dalam kondisi itu, sebagian pendaki menyampaikan ketidak-setujuan mereka. Pemeriksaan mengenai pendakian Wang masih berlangsung dan diperkirakan selesai dalam beberapa pekan ke depan, sementara masyarakat pendaki gunung dengan cemas menunggu hasilnya. (*/jno)
Berita Terkait
Kisah penerbang TNI-AU menembus akses yang terputus di Ranah Minang
Rabu, 24 Desember 2025 13:24 Wib
Distribusi bantuan lewat udara ke Pasaman Barat
Senin, 22 Desember 2025 12:51 Wib
TNI AU terus kirim logistik berkelanjutan bagi korban bencana di Sumbar
Senin, 15 Desember 2025 23:17 Wib
TNI AU kerahkan heli antar logistik ke lokasi bencana di Sumbar
Senin, 15 Desember 2025 9:10 Wib
Presiden: Puluhan helikopter dan pesawat dikerahkan tangani bencana
Jumat, 12 Desember 2025 20:03 Wib
Satu helikopter antar bantuan logistik bencana ke Talamau
Jumat, 12 Desember 2025 18:42 Wib
Dua helikopter antarkan bantuan logistik bencana ke Talamau Sumbar (Video)
Selasa, 2 Desember 2025 17:14 Wib
TNI AD kerahkan 2 helikopter guna bantu penanganan bencana di Sumatera
Sabtu, 29 November 2025 6:11 Wib
