
LPMP: Kunci Jawaban UN yang Beredar Palsu

Padang, (Antara) - Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumatera Barat (Sumbar), Jamaris Jamna menyatakan kunci jawaban ujian nasional (UN) bidang studi Matematika yang beredar pada pelaksanaan UN hari kedua di kota Padang ternyata palsu. "Setelah (kunci jawaban) dicocokkan dengan lembaran naskah ujian, ternyata jawabannya tidak pas," katanya di Padang, Rabu. Pencocokan kunci jawaban tersebut dilakukan LPMP Sumbar setelah beredarnya lembaran kertas yang diduga berisi kunci jawaban UN yang ditemukan Ombudsman Sumbar di SMP Negeri 16 kota Padang usai pelaksanaan ujian pada Selasa (6/5). Ia menyatakan dari 40 soal yang diuji, hanya jawaban 17 soal yang benar-benar mirip dengan yang tertera di lembaran kunci jawaban. Pengujian dilakukan oleh seorang guru berprestasi bidang studi Matematika di kota Padang. "Pengujian dilakukan untuk memastikan apakah ini memang kunci jawaban UN tahun sekarang, tahun lalu, atau malah prediski UN tahun-tahun berikutnya. Kalau berdasarkan soal ujian tahun ini, kunci yang dibuat malah salah," katanya. Sebelumnya, Ombudsman Sumbar menemukan lembaran yang diduga kunci jawaban UN tersebut di SMP Negeri 16 Padang. Dugaan kunci jawaban soal UN Matematika tersebut beredar dalam bentuk lembaran kertas yang berisi petunjuk pada soal nomor 1 sebagai pembeda tanda nomor paket ujian. Kepala Ombudsman Sumbar, Yunafri mengatakan peredaran dugaan kunci jawaban itu ditemukan oleh asistennya saat berada di SMP Negeri 16 Padang, seusai pelaksanaan ujian. Pada hari pertama UN, Ombudsman Sumbar juga menerima laporan tentang peredaran dugaan kunci UN Bahasa Indonesia dari salah satu orang tua murid di MTs N Durian Taruang. "Atas laporan tersebut, Ombudsman Sumbar akan berpijak kepada prosuderal dari Badan Standar Nasional Pendidikan untuk mengetahui kebenaran kunci jawaban UN yang beredar itu. Dalam hal ini harus ada koordinasi antara perguruan tinggi pembuat soal dengan LPMP serta pengawas. "Akan dicocokkan kebenarannya. Jika kunci dan soal benar-benar cocok berarti ini valid dan ada pihak yang membocorkannya. Jika tidak bisa jadi dimanfaatkan untuk mencari keuntungan dengan menjual soal UN atau malah mengacaukan UN," katanya. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
