Logo Header Antaranews Sumbar

Ayam Kokok Balenggek Tak Boleh Punah

Rabu, 20 Mei 2026 13:14 WIB
Image Print
Basril Basyar (Antara/Dokumentasi pribadi)

Padang (ANTARA) - Ayam Kokok Balenggek (AKB) adalah salah satu jenis unggas penyanyi endemik dari Kabupaten Solok, Sumatera Barat, khususnya di Kecamatan Payung Sakaki dan Tigo Lurah. Ayam ini sangat terkenal karena memiliki irama kokok bersusun (berlenggek) yang menyerupai alunan lagu.

Potensi dan pelestarian Ayam kokok balenggek ini pernah digali dan diaktualkan kembali ketika Kabupaten Solok dipimpin Bupati Nurmawan. Saat itu ditingkatkan populasi melalui program-program Dinas Peternakan setempat.

Ayam kokok balenggek semakin terkenal. Bahkan setiap tamu yang datang dari luar daerah seperti Jakarta dan lainnya selalu membawa ayam kokok balenggek sebagai oleh-oleh spesifik dan membanggakan dari daerah itu.

Tak heran ketika Gamawan Fauzi diawal masa kepemimpinannya 1996 , ayam kokok balenggek dinobatkan sebagai maskot Kabupaten Solok. Di depan kantor bupati Arosuka Sukarami dibangun tugu ayam kokok balenggek.Naskit yang membanggakan.

Semasa itu pembicaraan terkait ayam kokok balenggek sangat intens sekali dilakukan. Dimana-mana orang bicara ayam kokok balenggek, termasuk dalam iven-iven peternakan. Bahkan sering pula dilombakan keindahan irama ayam kokok balenggek ini.

Namun pencanangan Ayam Kukuak Balenggek sebagai maskot fauna wilayah Kabupaten itu sejak tahun 1996 tidak lagi sahabat dulu. Kini seakan mulai sirna. Pembicaraan dan kehebatan suara merdu ayam kokok balenggek meredup di tengah hantaman zaman.

Ayam yang selama ini sangat dibanggakan karena memiliki suara kokok bersusun (bertingkat) yang merdu, menyerupai irama nyanyian itu mulai kurang diminati masyarakatnya. Populasi semakin menurun. Hanya 2800 ekor dan yang bisa dikembangkan hanya 800-an ekor.

Masyarakat Minang yang biasa meyebut ayam kukuak belenggek dengan sebutan baindiak menurut dialek setempat redup ditengah kehidupan. Tidak banyak lagi iven-iven lomba Ayam Kokok Balenggek.

Ayam jantan kukuak balenggek memiliki irama bertingkat mulai dari 3 lenggak hingga 19 dan 24 lenggek itu mulai hilang dari perbincangan masyarakat. Prihatin memang.

Merujuk penelitian Prof Dr Firda Arlina menyatakan ayam kukuak balenggek, membagi suara atau kokoknya atas tiga bagian, yaitu bagian depan, tengah dan akhir atau lenggek kokok. Masing-masing fase memiliki irama dan keunikan tertentu. Dibandingkan dengan ayam jago biasa hanya memiliki kokok yang terdiri atas 4 suku kata dan suku kata yang terakhir biasanya lebih panjang dari tiga suku kata sebelumnya.

Berbeda dengan ayam biasa, ayam kokok balenggek mesti dirawat dengan sungguh-sungguh. Untuk perawatan, diberikan makanan-makanan khusus, seperti tomat, madu, jeruk, cabai rawit, jahe, dan padi halus. Makanan itu diberikan sekali 15 hari setelah dimandikan.

Makanan itu tidak diberikan sekaligus tetapi bertahap dan memiliki kadar tertentu pada masing-masing tahapannya.

Sepintas Ayam Kukuak Balenggek bentuknya hampir sama dengan ayam lokal biasa. Tapi jika diperhatikan lebih seksama maka terlihat bentuk tubuhnya lebih bagus. Selain itu ciri khasnya adalah suara kokoknya yang merdu dan balenggek (bertingkat). Lenggek (tingkat) kokok ayam yang hebat, berada diatas sepuluh tingkatan.Durasinya panjang.

Konon ceritanya, ayam kukuak balenggek berasal dari keturunan ayam kinantan milik Cindua Mato yang mengawini ayam hutan di Bukit Sirayuah Kecamatan Payung Sekaki dan berkembang biak hingga sekarang.Cerita ini berasal dari penuturan tetua-tetua yang ada disana.

Harga­ Ayam Kukuak Balenggek pun lumayan mahal, berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per ekornya. Bahkan bagi ayam tinggi tingkaran kokok, harganya bisa belasan dan puluhan juta. Sangat tergantung oleh paham dan tingkat kesukaan atau mood seseorang.

AKB termasuk dalam kategori unggas bersuara merdu. Dan jika dilihat dari tempatnya, Ayam Kukuak Balenggek termasuk kategori hewan Endemik, karena tidak ditemukan di daerah lain dimanapun dan hanya hidup di Solok saja.

Dilihat dari tingkatan kokoknya, ayam jantan dapat terdiri dari 3 hingga 15 suku kata.Variasi warnanyadikelompokkan menjadi beberapa jenis seperti Kinantan (putih), Biring (merah), Kanso (abu-abu), dan Kuriak (belang). Dilihat dari postur tubuh, ada dinamakan Yungkilok Gadang (Besar), Ratiah (Ramping) dan Batu (Pendek). Warna Bulu ada yang Biriang (Merah), Taduang (Hitam), Kinantan (Putih murni), Jalak, dan Kuriak.

Menurut penelitian dan pidato pengukuhan guru besar Prof Dr. Ir. Firda Arlina MSi yang dusampaikan 25 April 2026, ragam suara kokok ada yang mampu menghasilkan 6 hingga 24 suku kata dalam satu tarikan napas.

Ia memgatakan ayam ini memiliki ragam irama khas, seperti Sigegek Angin dan Gayuang Luluah. Pada pidato inilah ia mengatakan bahwa konservasi dan pelestarian ayam kokok balenggek sudah sangat mendesak dilakukan melalui habitat asli ( in situ) maupun luar habitat ( ex situ). Ia menyebut status ayam ini sangat kritis dan terancam punah. Populasinya terus menurun.

Menurut standar FAO, faktor-faktir penyebab digadrasi ini adalah semakin banyak keluarnya bibit inggul. Pejantan dengan suara kokok terbaik sering dijual ke luar daerah, sehingga daerah sentra kehabisan bibit berkualitas.

Sistem Kawin bermasalah. Sering kawin liar, tidak terkontrol. Perkawinan sedarah (inbreeding) yang tidak terarah menurunkan daya tetas dan kawin silang dengan ayam kampung merusak gen murni AKB.

Pengurungan pejantan yang bersuara bagus sering dilakukan pemiliknya agar suaranya terjaga. Akibatnya ayam tersebut jarang kawin.

Tingkat Kematian juga tinggi. Lebih dari 50% anak ayam mati akibat pemeliharaan yang dilepas bebas lalu dimangsa predator dan rentan wabah penyakit (ND) karena minimnya vaksinasi.

Namun guru besar ilmu peternakan ni tidak hanya menyampaikan kerisauannya, tetapi menawarkan solusi. Ia menawarkan strategi pemuliaan untuk memperbaiki mutu genetik dan keindahan suara kokok ini.

Lakukan seleksi keturunan yang terarah dan pemanfaatan nilai heritabilitas.untuk mendukung pemuliaan. Caranya meliputi perkawinan individu (stud mating), perkawinan kandang (pen mating), perkawinan berkelompok (flock mating), dan inseminasi buatan.

Selain itu perlu pula dilakukan seleksi tetua guna mengatasi masalah perkawinan liar melalui pemeliharaan intensif, penyeragaman ciri fisik (fenotip), dan pencatatan silsilah (recording) yang ketat.

Pemuliaan ini mesti didukung pendekatan molekuler karena kemampuan berkokok ayam jantan dikendalikan oleh gen spesifik seperti FOXP2, ZENK, reseptor dopamin, dan CCKBR.

Prof Dr Firda mengatakan model strategi ini mengintegrasikan seleksi fenotip dan genetik (SNP) melalui perkawinan terkontrol, pelestarian habitat, serta penyebaran bibit unggul berbasis komunitas peternak.

Semua ini tidak bisa terlaksana secara optimal, tanpa dukungan pemerintah, masyarakat, kalangan akademisi dan termasuk pihak swasta. Pemerintah Kabupaten Solok dan Sumbar mesti bangun dan punya kepedulian terhadap pelestarian plasma Nutfah ini. Tanpa itu, ayam kokok balenggek yang dibanggakan itu hanya tinggal nama.

Tentu kita berharap jangan kepunahan itu dimulai dari generasi kita sekarang dan berlanjut ke generasi berikut. Itu bukanlah sebuah kemuliaan.

Penulis merupakan ahli peternakan



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026