Logo Header Antaranews Sumbar

Kemenbud gandeng BRIN perkuat narasi museum berbasis riset ilmiah

Selasa, 19 Mei 2026 22:32 WIB
Image Print
Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amarulla Octavian (kanan) dan Wakil Menteri Kebudayaan (Wamenbud) Giring Ganesha (kiri) dalam kegiatan BRIN Goes To Industry 4 di Jakarta, Selasa (19/5/2026). (ANTARA/HO-BRIN)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersinergi memperkuat narasi sejarah dan kebudayaan nasional melalui landasan riset ilmiah dalam rangka memperkenalkan jati diri bangsa Indonesia.

Wakil Menteri Kebudayaan (Wamenbud) Giring Ganesha dalam kegiatan BRIN Goes To Industry 4 di Jakarta, Selasa, menyoroti krusialnya perumusan ulang identitas nasional (reinventing the national identity) yang harus segera diwariskan kepada generasi mendatang.

"Kita membutuhkan data kajian, riset, dan pembacaan sejarah yang kokoh. Di sinilah peran lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional dan peran para peneliti menjadi sangat-sangat strategis," katanya.

Wamenbud menekankan bangsa Indonesia tidak boleh lagi terjebak dalam narasi inferior sebagai bangsa jajahan, melainkan harus menyadari kebesaran leluhur yang cerdas dalam strategi geopolitik, seperti era peradaban Muara Jambi maupun taktik diplomasi Majapahit.

Untuk mewujudkan pemahaman sejarah yang revolusioner tersebut, lanjut dia, kajian literatur kuno dan benda peninggalan masa lalu wajib ditopang secara mutlak oleh metodologi riset sains yang akurat.

Eks-vokalis grup band Nidji itu mengungkapkan tantangan terbesar dari pengelolaan museum dan situs warisan di berbagai daerah saat ini adalah minimnya kedalaman cerita, sehingga terkesan sekadar menjadi gudang penyimpanan artefak.

"Dari banyak museum yang saya kunjungi ada satu persoalan yang hampir selalu sama, yaitu kurangnya narasi. Sepertinya semua museum ingin menampilkan seluruh koleksi di gudang (untuk) ditaruh di depan semuanya," ujarnya.

Menurut Giring, penggunaan teknologi modern dari BRIN, mulai dari carbon dating hingga arkeometri, diyakini mampu melahirkan narasi yang tak terbantahkan secara ilmiah, sekaligus menyulap ruang museum menjadi arena edukasi yang hidup dan memikat pengunjung.

"Padahal, kunci utama untuk menarik minat pengunjung bukan semata banyak koleksi tetapi kekuatan narasi. Museum bukan tempat untuk menyimpan benda lama, museum adalah ruang untuk bercerita," ucap Wamenbud Giring Ganesha.

Sejalan dengan visi pelestarian tersebut, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian memaparkan komitmennya dalam mengoordinasikan riset-riset lintas bidang yang mengedepankan harmoni antara alam, lingkungan, dan peradaban sosial.

Amarulla menggarisbawahi bahwa kegiatan BRIN Goes To Industry 4 sejatinya merupakan langkah nyata untuk membangun karakter manusia Indonesia melalui kegiatan eksplorasi warisan dengan perpaduan kepakaran arkeolog, filolog, sejarawan, dan inovasi teknologi mutakhir.

"Dalam agenda dan peta jalan riset dan inovasi nasional, terdapat salah satu instrumen pengungkit utamanya yaitu mempercepat transformasi sosial dan masyarakat menuju SDM unggul, berdaya saing global, serta berakar pada nilai budaya dan jati diri bangsa. Sehingga pagelaran BRIN Goes to Industry ini menjadi salah satu upaya BRIN dalam pembentukan SDM unggul yang tetap berakar pada nilai budaya dan jati diri bangsa," tutur Amarulla Octavian.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemenbud gandeng BRIN perkuat narasi museum berbasis riset ilmiah



Pewarta:
Editor: Erie Syahrizal
COPYRIGHT © ANTARA 2026