
Sumbar tunggu arahan Kementan pulihkan 2.398 ha lahan rusak berat

Kota Padang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menunggu arahan lanjutan dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memulihkan 2.398 ha lahan pertanian yang rusak berat akibat bencana hidrometeorologi di akhir 2025.
"Lahan rusak berat ini betul-betul membutuhkan alat dan perhitungannya barangkali akan dilimpahkan ke Kementerian Pekerjaan Umum," kata Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar Afniwirman di Padang, Jumat.
Hingga saat ini khusus penanganan lahan pertanian yang mengalami rusak berat memang belum ada kepastian dari kementerian terkait, karena kerusakan tersebut membutuhkan alat dan sumber daya yang tergolong cukup besar.
"Sudah terdata, tapi belum tersentuh. Saat ini yang tersentuh baru yang rusak ringan dan sedang saja," kata dia.
Secara umum, bencana hidrometeorologi yang terjadi di akhir tahun lalu berdampak langsung pada 7.000 ha lahan pertanian. Pemerintah melalui instansi terkait membagi lahan terdampak menjadi empat kategori yakni rusak ringan, rusak sedang, rusak berat dan sawah yang hilang.
Lebih rinci, tercatat 2.802 ha rusak ringan, 1.100 ha rusak sedang, 700 ha hilang dan sisanya mengalami rusak berat. Untuk sawah yang hilang disebabkan oleh lahan yang terban, longsor, hanyut atau tergerus oleh sungai hingga tertimbun bebatuan.
"Kondisi ini banyak terjadi di Kabupaten Agam dan Solok," ujar dia.
Berdasarkan keterangan tenaga ahli dari Kementan kondisi tersebut cukup sulit untuk secepatnya dipulihkan menjadi areal persawahan seperti semula. Sehingga saat ini rehabilitasi fokus pada lahan rusak ringan, sedang dan berat.
Di sisi lain, ia menyebutkan dari total 3.902 ha lahan sawah yang rusak ringan dan sedang, sekitar 70 persen di antaranya telah berhasil dipulihkan. Terkini, pihaknya sedang melakukan pengerjaan lahan di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam dengan lahan rusak lebih dari 100 ha.
Sementara itu untuk lahan sawah yang terbilang sulit untuk dipulihkan, ia mengimbau masyarakat atau kelompok tani untuk memaksimalkan pemanfaatan dengan menanam tanaman yang mudah tumbuh.
"Yang penting lahan masyarakat itu bisa bermanfaat," tambahnya.
Kemudian untuk lahan yang ditimbuni bebatuan, namun memiliki akses masuk kendaraan roda enam, ia menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan material tersebut agar dapat menjadi sumber ekonomi sehingga di kemudian hari lahan itu dapat dipulihkan kembali.
Pewarta: Muhammad Zulfikar
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
