Logo Header Antaranews Sumbar

Masyarakat diminta tidak wajarkan pelecehan berbalut candaan

Senin, 20 April 2026 20:24 WIB
Image Print
Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor membuka acara Konsultasi Publik Laporan Tahunan Komnas Perempuan 2025 bertajuk "Menjaga Arah di Masa Transisi, Memperkuat Respons Ekosistem Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan", di Jakarta, Senin (20/4/2026). (ANTARA/Anita Permata Dewi)

Jakarta (ANTARA) - Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengajak masyarakat agar lebih peka dan tidak mewajarkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan yang kerap dibungkus dalam candaan di keseharian.

"Berapa banyak kekerasan yang sebenarnya terjadi di sekitar kita tetapi luput dari perhatian? Kita harus lebih jujur melihat kenyataan bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk yang ekstrem dan kasat mata. Ia bisa hadir dalam keseharian, pelan, berulang, dan seringkali dibiarkan dan selama ini masih dianggap biasa, di situlah ia terus menemukan ruang untuk bertahan," kata Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor.

Hal itu dikatakannya dalam acara Konsultasi Publik Laporan Tahunan Komnas Perempuan 2025 bertajuk "Menjaga Arah di Masa Transisi, Memperkuat Respons Ekosistem Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan", di Jakarta, Senin.

Dalam banyak kasus kekerasan seksual yang dilaporkan, kata dia, pada umumnya pelaku melakukan kekerasan berulang terhadap korban yang sama maupun pada korban-korban lainnya.

Pihaknya juga menyesalkan masih terjadinya kekerasan seksual di perguruan tinggi.

Komnas Perempuan menegaskan akan terus mengawal penanganan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi, termasuk kasus terbaru di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Fakultas Teknik dan Teknologi (FTT) IPB University.

Sebelumnya, terjadi kekerasan seksual berbasis gender online di Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang diduga melibatkan 16 mahasiswa.

Kasus serupa juga terungkap di FTT IPB University yang melibatkan 16 mahasiswa.

Dugaan pelecehan seksual terjadi di grup percakapan digital.

Sementara Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) juga menjadi sorotan publik menyusul lagu berjudul "Erika" yang dinyanyikan mahasiswa jurusan Teknik Pertambangan ITB, dan video rekamannya beredar luas di media sosial.

Pasalnya lagu tersebut dinilai melecehkan perempuan.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Masyarakat diminta tidak wajarkan pelecehan berbalut candaan



Pewarta:
Editor: Erie Syahrizal
COPYRIGHT © ANTARA 2026