PADAN siap pagari anak kemenakan dari HIV/AIDS

id yayasan padan,hiv/aids,lgbt,bukittinggi

PADAN siap pagari anak kemenakan dari HIV/AIDS

Peluncuran secara resmi Yayasan Paduli Anak Nagari (PADAN) di Bukittinggi, Sumbar. (Antara/Al Fatah)

Bukittinggi  (ANTARA) - Paduli Anak Nagari (Padan) yang merupakan perkumpulan tokoh masyarakat di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, yang bergerak di bidang kemanusiaan sepakat membentengi generasi muda Ranah Minang dari penyebaran HIV/AIDS.

"Kami siap bekerja sama dengan Yayasan Padan untuk menjaga anak kemenakan untuk menjadikan Bukittinggi semakin hebat di tahun mendatang, kami mengapresiasi pendiri Paduli Anak Nagari yang sudah menginisiasi program ini," kata Asisten 1 Setdako Bukittinggi, Isra Yonza di Bukittinggi, Sabtu.

PADAN diluncurkan di Aula Gedung Tri Arga Bukittinggi, Sabtu, yang dihadiri sejumlah tokoh Minangkabau dan praktisi kesehatan.

Isra Yonza mengatakan Pemerintah Daerah (Pemda) menyadari keterbatasan sehingga tidak bisa berjalan sendiri menjaga anak kemenakan sehingga perlu bergandengan tangan dengan semua pihak.

Beberapa tokoh lainnya yang hadir adalah Pakar Psikologi, dr Rezky Khainidar selaku praktisi kesehatan reproduksi, Yusra Khan selaku Tokoh Minang yang pernah menjabat duta besar di PBB, dan Yoenarsih Nazar selaku Tokoh Bundo Kanduang penggagas Yayasan Padan.

Sementara itu pihak RSAM Bukittinggi menyebut HIV/AIDS sebagai penyakit yang berbahaya karena bisa menurunkan imun daya tahan tubuh manusia.

Berdasarkan data hingga tahun 2021, Sumbar berada di urutan ke 21 secara nasional, dengan penderita AIDS sebanyak 4.038 orang dimana 60 persen diantaranya merupakan lelaki penyuka sesama jenis.

"Kami berharap Padan bisa memberi solusi dan harapan baru dalam pengendalian HIV/AIDS, misalnya dengan membentuk warga peduli AIDS (WPA) di masing-masing desa atau kelurahan," katanya.

Acara soft launching ini juga ditandai dengan seminar yang dilakukan secara hybrid dan diikuti oleh 28 negara. Acara itu mendapat respon yang sangat baik oleh peserta interaktif maupun melalui zoom dan live show YouTube.

Salah satu pemateri seminar, Khairul Anwar Tan Rajo menyebut gaya hidup Kota Bukittinggi, kian mengkhawatirkan. Bahkan, sejak tahun 2009 lebih dari 600 jenis narkoba beredar di kota wisata itu.

Ia pernah melakukan riset ke sejumlah sekolah. Kata Tan Rajo, narkoba bahkan sudah menyentuh secara positif 19 dari 30 anak secara acak.

"Penyebaran HIV/AIDS hari ini, tidak lagi didominasi oleh penyalahgunaan jarum suntik dan obat-obatan terlarang, tapi mayoritas disebabkan oleh perilaku seksual menyimpang," katanya

Dalam rentang tahun 2015-2018, Tan Rajo menjabarkan penelitiannya jika sudah ada angka seribu warga Kota Bukittinggi yang terpapar, maka ada kemungkinan 90.000 lebih yang tidak teridentifikasi.

"Kondisi hari ini perilaku menyimpang bukan lagi karena kesalahan hormon, tapi sudah menjadi gaya hidup. Meskipun angka sebarannya cukup besar di Sumbar, mereka tidak bisa ditindak karena tidak ada regulasi. Karena itu diharapkan ada Perda yang mengatur," katanya.

Sementara itu, salah satu penggagas berdirinya Yayasan Padan, Dr Andi Prawira menyebut ide tersebut tercetus pada 6 Januari 2023, saat itu digelar rapat kecil melalui virtual.

"Sekitar 4-6 orang berembuk, lalu antusiasme dicek secara mendadak ternyata banyak yang meminati. Kini badan hukumnya sudah ada, sekretariat juga ada di kawasan Aur Kuning," katanya.

Ia menegaskan yayasan yang sudah berbadan hukum ini bukan untuk memerangi para pelaku LGBT, melainkan dimaksudkan memagari anak nagari agar tidak turut terjerumus.

"Indonesia bukan negara bertipe liberal seperti Thailand dan negara lain, karenanya masyarakat harus kuat, mandiri, dan berkarakter yang bisa menjadi contoh bagi masyarakat lain," ujarnya.

"Pendidikan memang dimulai dari keluarga, tapi kapten sebagai pemimpin keluarga harus menguasai navigasi agar kapal tidak oleng, ini yang akan menjadi sasaran utama karena pengaruh LGBT sudah seperti api dalam sekam, maka kewajiban semua pemangku kepentingan untuk tetap membentengi keluarga masing-masing," katanya.