Logo Header Antaranews Sumbar

Seni Mengirim Surat di Kabul Kota Tanpa Nama Jalan

Senin, 15 Juli 2013 15:31 WIB
Image Print

Kabul, (Antara/AFP) - Banyak jalan yang tidak memiliki nama dan rumah-rumah sering tidak bernomor di Kabul, yang berarti tukang pos harus berani menghadapi ancaman bahaya setiap hari dari pelaku bom bunuh diri, untuk bermain layaknya detektif guna mengantar surat. Mohammad Rahim berkeliling mengayuh sepeda di jalan berbukit-bukit di Afghanistan. Setelah 10 tahun menjalankan tugasnya, ia tidak terkalahkan untuk menemukan alamat bahkan yang tidak jelas sekalipun. "Ini kami menerima sepucuk surat untuk seorang pria yang tinggal di dekat rumah dokter Hasmat," kata Rahim, 46 tahun. "Saya tidak tahu alamatnya, jadi mari kita lihat bagaimana caranya menemukan alamat ini." Satu-satunya petunjuk baginya adalah nama penerima Mohammad Naeem, nama dokter dan petunjukk di balik amplop yang mengatakan "Puncak bukit Kart-e-Sakhi, di belakang gedung Kementerian Pertanian." Dengan mengenakan topi bulu warna hitam, celana jeans biru dan kaos warna ungu, serta dan potongannya yang khas, ia sering dikenali oleh penduduk Kabul. Ia mengawalinya dari lingkungan kantor pos terdekat dengan alamat tujuan dan mulai bertanya pada orang-orang. "Bung, bisa beritahu dimana sih rumah dokter Hasmat?" Rahim bertanya pada seorang penjaga toko. "Naik ke atas bukit dan belok kanan," jawabnya, maka Rahim mulai memauki jalan berbatu. Setelah lebih jauh lagi, seorang pria mengatakan kepadanya "Belok kanan, rumah ke tiga di sebelah kiri." Setelah lama menunggu di luar gerbang, seorang perempuan berumur 40-an keluar. Istri Mohammad Naeem, yang menerima surat bagi suaminya. "Kami mendapat surat dari Amerika, Kanada, Jerman dan Pakistan dan tukang pos selalu mengirim dengan tepat waktu dan aman," katanya. Rahim mengirim puluhan surat setiap hari melintas dari barat ke barat daya Kabul, kota yang sudah berkurang menjadi puing dan reruntuhan sejak perang saudara yang keji tahun 1992-1996. Penduduk Kabul melonjak menjadi lima juta ketika banyak orang membanjir datang ke kota itu untuk mendari pekerjaan dan mereka yang melarikan diri dalam peperangan melawan Taliban dan banyak yang masuk secara gelap membangun gubuk-gubuk liar untuk tinggal. Namun hari-hari yang membingungkan mengenai pencarian alamat, akan segera berakhir, setelah bulan lalu Kementerian Komunikasi menandatangani kesepakatan dengan pihak kota untuk menciptakan sistem alamat yang baru. Seluruh jalan dan rumah akan diberi tanda, nomer rumah dan peta dalam proyek dua tahun yang oleh gubernur diharapkan dapat meluas ke kota-kota lain. Skema -- yang akan menggunakan penelusuran GPS -- akan membantu Rahim dan rekan-rekan sesama tukang pos seperti Khan Agha(42) yang bekerja di kantor pos pusat di wilayah Shar-e-Naw. Untuk saat ini Agha, yang pertama kali mengirim surat 22 tahun lalu, peta alamat yang kacau "menjadikan tugasnya sebagai pekerjaan tersulit di dunia". "Kami tidak peduli dengan kondisi lalu lintas, cuaca musim panas ataupun dingin, berkabut ataupun hujan, tetapi banyak sekali alamat tidak lengkap, meskipun nomor telepon di sampul surat sangat membantu. "Kami menelepon dan mereka menjawab 'Saya berdiri di sini' lalu kami pergi dan menyerahkan suratnya." "Saya bersikap terbaik menghadapi orang. Kami melihat di televisi, tukang pos di luar negeri dirindukan karena menjadi penghubung antara pengirim dan penerima surat.". Pekerjaan menjadi lebih menantang bagi Agha, yang kehilangan mata kanan ketika bertugas sebagai tentara 20 tahun lalu, salah seorang korban pertikaian yang melanda Afghanistan selama puluhan tahun. "Suatu hari dalam masa pertikaian, saya tertembak di belakang kepala dan pelurunya menembus keluar di mata kanan." Mengaku bahwa luka itu masih terus menyulitkannya, Agha mengaduk tumpukan surat di lantai kantor pos untuk mencari surat-surat yang harus dikirim di lingkungan tersebut. "Kami akan mengantar surat untuk Ny. Barbara di Sherpoor, sepucuk surat yang dikirim dari Jeman," katanya. Kerapkali ada surat dengan alamat tujuan hanya nama wilayah tanpa nama jalan dan nomer rumah. Setelah berkeliling hampir dua jam mencari alamat dengan bertanya pada lebih dari 12 orang berbeda, termasuk tukang roti, ia menemukan jalan yang sempit, mengarah pada penerima seorang pegawai kesehatan. Pekerjaan keras yang tidak mendapat imbalan pantas, dialami 900 orang tukang pos di seluruh negeri, 100 di antaranya di Kabul. Agha menerima sekitar 90 dolar per bulan, jauh dari cukup untuk menghidupi delapan anggota keluarganya. Namun ia berharap bahwa dalam waktu dekat semua jalan di Kabul sudah memiliki nama yang sesuai dan nomor rumah. "Ini langkah baik yang dilakukan oleh kementerian untuk menciptakan sistem,"katanya. Ketika proyek selesai, kami dapat melaksanakan tugas dengan lebih mudah. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026