Padang Aro, Sumbar, (Antara) - Institution Concervation Society (ICS) saat ini tengah mengembangkan produksi minyak kepayang dan mengolahnya menjadi bahan kosmetik di Kabupaten Solok Selatan, Sumbar.
"Kita bekerja sama dengan salah satu perusahaan di Bali. Jika ini berhasil dekembangkan dalam skala besar, nilai ekonomisnya tinggi bagi masyarakat dan pemerintah daerah," kata Direktur Institution Concervation Society (ICS) Salfayandri, di Padangaro, Jumat.
Buah kepayang oleh masyarakat sekitar disebut kapecong atau simauang. Orang Jawa mengenalnya dengan nama kluet.
Menurut dia, tumbuhan kepayang ini biasanya hidup di pinggir sungai atau daerah yang banyak mengandung air dan oleh masyarakat Solok Selatan selama ini tumbuhan ini ditebang untuk diambil kayunya.
"Sekarang kita kembangkan buah kepayang jadi minyak sebagai bahan kosmetik seperti sabun dan lainnya," jelasnya. Dikatakannya, minyak mentah kepayang bisa melembutkan kulit kasar seperti fungsi pelembab atau lution. Dia mengatakan, berdasarkan pendataan, saat ini di Solok Selatan ada sekitar 500 batang pohon kepayang sudah produksi.
"Untuk meningkatkan produksi dan ketersediaan bahan baku, sudah empat bulan kita membuat pembibitan dan sekarang jumlahnya 600 batang," kata dia.
Selain untuk kosmetik, minyak kepayang kata dia, juga dipergunakan untuk minyak goreng, dan berdasarkan uji labor di Sucofindo, minyak tersebut tanpa kolesterol.
"Di Solok Selatan kita sudah dua kali produksi dengan hasil mencapai satu ton serta untuk panduan pengolahannya juga sudah dikeluarkan bukunya," imbuhnya.
Selain buahnya yang bermanfaat, imbuhnya, daun kepayang juga mempunyai khasiat yang tidak kalah hebat.
"Daun kepayang bisa digunakan untuk memberantas hama tanaman dengan cara daunnya ditumbuk dan airnya disemprotkan ke tanaman," jelasnya.
Selain itu kata dia, ampas pengolahan buah kepayang juga bisa dijadikan pakan ikan dan hal ini juga akan dikembangkan. "Ampas dari buah kepayang ini juga akan dikembangkan menjadi pelet pakan ikan dan ini tentunya akan menambah nilai ekonomi bagi masyarakat," kata dia.
Dia menambahkan, sekarang sudah ada tiga kelompok masyarakat pengolah buah kepayang, tetapi mereka masih menggunakan cara tradisional yaitu dipres menggunakan kayu dengan hasil paling banyak dalam satu hari per orang hanya lima kilogram.
"Hasil produksi masyarakat kita beli dengan harga Rp35 ribu perkilo dan dalam waktu dekat kita akan bagikan peralatan pres pada mereka guna meningkatkan produksi," tambahnya. (**/rik/wij)
