Tumbuhkan patriotisme, dapat diimulai dengan mengonsumsi bahan bakar non subsidi

id Pertamina

Tumbuhkan patriotisme, dapat diimulai dengan mengonsumsi bahan bakar non subsidi

Antrean truk di salah satu SPBU di Sumatera Barat (istimewa)

Padang, (ANTARA) - Lima hari sudah tanggal 10 November berlalu, hari itu diperingati sebagai Hari Pahlawan. Di Seluruh daerah di Indonesia tentunya melaksanakan upacara memperingati perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dengan mengorbankan jiwa dan raga

Pada Hari Pahlawan biasanya beragam foto-foto pahlawan serta kutipan menggugah jiwa nasionalisme muncul di lini masa media sosial. Mulai dari foto pendiri bangsa Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim, Bung Tomo dan lainnya.

Sekarang setelah lima hari berlalu, peringatan itu seolah terlupakan, namun menumbuhkembangkansikap patriotisme tentu terus dilakukan secara terus menerus.

Apabila para pahlawan berjuang dengan jiwa patriot merebut kemerdekaan mulai dari pertempuran, negosiasi, perjanjian dan semacamnya. Saat ini tentunya banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengasah sikap patriotisme.

Tak perlu muluk-muluk seperti Bung Hatta yang menyatakan dirinya tidak akan menikah jika Indonesia belum merdeka. Atau bahkan seperti Tan Malaka yang rela meninggalkan wanita yang dicintainya dan memilih membujang untuk menimba ilmu pengetahuan dan membawa bangsa ini merdeka.

Salah satu peran yang dapat dilakukan saat ini adalah berani menggunakan bahan bakar non subsidi. Hal ini bertujuan agar bahan bakar bersubsidi seperti premium dan bio solar dapat tersalurkan kepada mereka yang berhak mendapatkan sesuai dengan regulasi yang ada.

Walaupun seluruh warga negara memiliki hak yang sama mendapatkan bahan bakar namun alangkah baiknya mereka yang mampu dapat beralih dari bahan bakar bersubsidi menuju bahan bakar non subsidi yang tentunya lebih mahal.

Langkah ini dapat diartikan sebagai bentuk sikap patriot kekinian. Seorang warga negara yang membeli bahan bakar

non subsidi yang lebih mahal walaupun ada kesempatan untuk mendapatkan bahan bakar lebih murah dengan tujuan agar kuota bahan bakar subsidi yang ditetapkan pemerintah dapat tepat sasaran kepada warga negara yang lebih membutuhkan.

Menerapkan sikap seperti itu tentunya tidak gampang dan butuh pergulatan batin, sehingga seorang yang berani memilih bahan bakar non subsidi sebagai bahan bakar kendaraan, hal ini sebenarnya telah menunjukkan sikap patriotisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sepele memang, namun apabila masyarakat memiliki jiwa patriot tersebut tentunya antrean panjang kendaraan yang mengisi bahan bakar bersubsidi tidak akan terjadi. Dan kuota bahan bakar yang ada dapat disalurkan tapat sasaran sebagaimana yang diatur dalam regulasinya.

Polisi "Move On"

Namanya Windrizal, seorang petugas kepolisian berpangkat Brigadir Kepala (Bripka). Sehari-hari dirinya bertugas di Polresta Padang Sumatera Barat.

Dalam menjalankan pengabdiannya dirinya membutuhkan peralatan yang prima untuk menunjang kinerjanya.

Salah satunya adalah kendaraan yang digunakan setiap hari yang digunakan dalam menjalankan tugas sesuai tugas pokok dan fungsinya.

Ia mengakui setiap hari menggunakan sepeda motor dari kediamannya di kawasan Air Pacah menuju kantornya yang berjarak sekitar 30 kilometer yakni di jalan Moh Yamin nomor 1 yang berada di pusat Kota Padang.

Dalam melaksanakan tugas tentu dirinya membutuhkan kendaraan yang prima dengan bahan bakar terbaik.

Menurut dia pemilihan bahan bakar merupakan hal vital bagi dirinya karena salah menggunakan bahan bakar akan langsung berdampak dan menggangu kinerjanya sebagai aparat.

Dulunya dia selalu menggunakan bahan bakar subsidi yakni premium, namun setelah beralih menggunakan motor Nmax 155 cc. Kebiasaannya menggunakan premium dihilangkan.

Ia mengakutelah "move on" atau beralih mengonsumsi bahan bakar non subsidi yakni jenis pertamax sejak delapan bulan yang lalu. Langkah ini dia ambil untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak.

"Kalau kita pakai premium tenaga motor jauh berkurang, tentu ini akan mengganggu," katanya.

Ia mengatakan banyak hal positif yang dia rasakan ketika menggunakan bahan bakar pertamax. Mulai dari tenaga motor yang digunakan menjadi maksimal.

"Tenaganya sama seperti kendaraan baru dan jauh berbeda dengan premium. Walaupun harga lebih mahal kita dapat kualitas dan keuntungan," katanya.

Selain itu dengan menggunakan bahan bakar pertamax membuat bunyi mesin lebih halus dan lebih awet.

"Ini benar-benar saya rasakan dan perbedaan sangat jauh dengan premium. Saya sudah "move on" dari premium menuju bahan bakar terbaik yakni Pertamax," katanya.

Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar