Keluarga Korem WB Saksikan Karut Marut Makanan Kuli Tambang

id Sawahlunto

Kunjungan ke lokasi wisata (ANTARA SUMBAR/taufan razzak)

Sawahlunto (ANTARA) - Keluarga besar Korem 032 Wirabraja, Provinsi Sumatera Barat mengunjungi tempat wisata Goedang Ransoem yang berfungsi sebagai tempat masak bagi para kuli tambang batubara dan juga pasien Rumah Sakit Sawahlunto. Dapur umum ini merupakan jawaban atas karut marut penyediaan makanan para kuli tambang pada zaman penjajahan Belanda.

Danrem 032 Wirabraja Brigjen TNI Kunto Arif Wibowo berkunjung ke Kota Sawahlunto pada awal Ramadhan di akhir pekan ini bersama keluarga besar Danrem mengunjungi tempat Wisata Gudang Ransoem dan keliling kota Sawahlunto dengan menaiki mobil wisata anak- anak Odong-odong disambut oleh Dandim beserta jajaran serta seorang pengusaha batubara di Kota Sawahlunto , Jhon Reflita.

Keluarga besar Korem 032 ini terdiri dari ibu-ibu TNI, pegawai Sipil TNI serta anak-anak mereka. Mereka sangat puas dan saling mendokumentasikan peninggalan zaman Belanda ini.

Gudang Ransoem merupakan sebutan untuk dapur umum yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang dibangun pada 1918. Pada saat itu setiap harinya dimasak beras sebanyak 65 pikul atau setara dengan sebanyak 3900 kg beras yang diperuntukkan bagi pekerja tambang batu bara (orang rantai), keluarga pekerja tambang (orang kawalan), dan pasien rumah sakit.

Menu makanannya saat itu adalah nasi, daging, ikan asin, telur asin, sawi putih dan hijau, serta kol. Makanan tersebut diberikan pada siang dan malam hari. Untuk sarapannya pukul 10 pagi berupa lapek-lapek, dibuat dari beras ketan merah dibubuhi kelapa serta gula merah dan dibungkus daun pisang. Untuk minumannya adalah teh. Pada masa saat itu, menu makanan tersebut terbilang cukup baik mengingat pemerintah Hindia Belanda berkepentingan agar pekerja tambang (pekerja kontrak dan pekerja paksa orang rantai) dapat produktif sehingga menghasilkan keuntungan besar untuk pemerintah.

Pada kunjungan wisata Danrem itu sekaligus dilakukan patroli dan memantau wilayah. "Dengan cara seperti ini kita bisa memantau daerah yang kita kunjungi, datang, dengar dan kita selesaikan jika ada satu masalah," ujarnya.

Pada kunjungan ke Sawahlunto tersebut Danrem juga mengenalkan pupuk yang dikenal dengan nama Bios 44 yang merupakan hasil kolaborasi TNI dengan pakar kimia molekuler. Abu dari PLTU Ombilin Sawahlunto akan dipadukan dengan bios 44 dan tanaman yang dicoba tumbuh bagus.

Penemuan Bios 44 berawal dari adanya permasalahan kebakaran hutan dan lahan di Sumsel. Sebab, sebelum 2006, kerap terjadi kabut asap. Hal itu mengganggu persiapan Asian Games 2018 dan TNI kemudian bekerja sama dengan Prof. Muhammad Tamim Pardede, pakar biokimia molekular. Bios 44 yang merupakan paduan mikroorganisme akan memperkecil hingga menutup rongga-rongga lahan gambut.

Bios 44 berfungsi menormalisasi lahan untuk kembali seperti semula. Inovasi itu sebenarnya sangat sederhana. Bahan-bahan yang dipakai mudah didapat. Misalnya, air, ragi, susu bubuk, cornet beef, dan gula pasir dan waktu pembuatan sekitar sebulan.

Saya menghimbau semua Dandim agar menyampaikankan informasi tentang Bios 44 ini guna membantu petani meningkatkan hasil panennya. “Jika ada niat baik, semua lancar,” ujarnya.*
Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar