Logo Header Antaranews Sumbar

Februari, ekspor Sumbar naik 4,54 persen

Senin, 1 April 2019 16:03 WIB
Image Print
Kepala Badan Karantina Pertanian pusat, Ali Jamil (ketiga kiri) bersama pimpinan daerah lainnya bersiap memecahkan kendi, saat pelepasan komoditas ekspor di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, Rabu (6/3/2019) (Antara Sumbar/Igoy El fitra)

Padang, (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat ekspor provinsi itu pada Februari 2019 mencapai 92,69 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau naik 4,54,79 persen dibandingkan Januari 2019 yang mencapai 88,66 juta dolar AS.

"Golongan barang paling banyak diekspor pada Februari 2019 adalah lemak hewan/nabati sebesar 66,71 dolar AS," kata Kabid Statistik Distribusi BPS Sumbar Teguh Sugiyarto di Padang, Senin.

Menurut dia negara tujuan ekspor nonmigas terbesar pada Februari 2019 adalah India sebesar 30,96 juta dolar AS, Amerika Serikat 21,82 juta dolar AS dan Singapura 10,64 juta dolar AS.

Ekspor ke India memberikan peranan sebesar 28,01 persen dan Amerika Serikat 24,68 persen terhadap total ekspor Sumbar pada Januari hingga Februari 2019, ujarnya.

Sejalan dengan itu ekspor produk industri pengolahan pada Februari 2019 juga mengalami peningkata sebesar 5,71 persen dibanding Januari 2019.
Sedangkan nilai impor Sumatera Barat pada Februari 2019 mencapai 30,36 juta dolar AS atau turun 23,21 persen dibandingkan Januari 2019 yang mencapai 39,53 juta dolar AS.

Golongan barang impor terbesar Februari 2019 adalah bahan bakar mineral sebesar 22,38 juta dolar AS, pupuk 4,41 juta dolar AS, dan golongan kertas /garam, belerang kapur 1,23 juta dolar AS.

Sebelumnya Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Barat Ramal Saleh menyampaikan potensi ekspor provinsi itu belum tergarap secara maksimal karena masih terfokus pada komoditas tertentu.

"Saat ini, ekspor kita masih terfokus pada minyak sawit mentah dan karet, seharusnya komoditas lain masih dapat dikembangkan," katanya.

Menurutnya, jumlah ekspor CPO dari Sumbar mencapai 70 persen, sedangkan komoditas karet sebesar 30 persen dari total ekspor.

"Hal ini perlu jadi perhatian karena masih banyak komoditas yang masih dapat dioptimalkan seperti kakao, pinang, dan vanila," katanya.

Ia mengatakan apabila komoditas lain seperti kakao dan pinang dikembangkan sehingga setara dengan jumlah ekspor CPO dan karet akan berdampak luas terhadap perekonomian.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026