Logo Header Antaranews Sumbar

Gubernur: Sumbar butuh lembaga penyangga untuk jaga stabilitas harga gambir

Selasa, 21 April 2026 12:17 WIB
Image Print
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Manyeldi saat diwawancarai terkait komoditas gambir di Kota Padang. ANTARA/Muhammad Zulfikar

Kota Padang (ANTARA) - Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Manyeldi mengatakan daerah tersebut membutuhkan semacam lembaga penyangga atau penampung untuk membantu menjaga stabilitas harga komoditas gambir terutama saat merosot.

"Kita butuh semacam penyangga yang siap menampung gambir saat nilainya turun," kata dia di Kota Padang, Selasa.

Mahyeldi mengatakan penyangga atau penampung sementara itu bisa dibangun oleh pengusaha, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) atau pemerintah daerah. Usulan ini dinilai bisa menjadi sebuah solusi agar petani gambir tidak tertekan oleh fluktuasi harga pasar global.

Ia menilai salah satu penyebab anjloknya harga gambir saat ini dikarenakan para petani menyerahkan sepenuhnya kepada penampung atau eksportir. Selain itu, nilai jual gambir juga dipengaruhi oleh kondisi global terkini.

Di awal April 2026 nilai jual gambir di gudang berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram atau tergantung kualitas. Sementara, di tingkat petani hanya Rp20 ribu per kilogram.

Sumbar, kata dia, sudah memiliki koperasi yang selama ini menampung gambir asal Kabupaten Limapuluh Kota maupun Kabupaten Pesisir Selatan. Namun, koperasi itu belum sepenuhnya bisa menampung hasil petani ketika musim panen sehingga dibutuhkan dukungan dari penyangga lainnya.

"Jadi, ketika harga gambir sedang anjlok kita tahan dulu. Nanti kalau harganya sudah membaik baru dijual," kata dia.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Provinsi Sumbar RM Ende Dezeanto mengatakan gambir menjadi salah satu komoditas unggulan Ranah Minang pada 2025.

Sepanjang 2025 pihaknya mencatat Sumbar telah mengekspor 54.041 ton gambir ke pasar global dengan tujuan Pakistan, India, Afrika Selatan dan Malaysia. Komoditas ini berhasil mencatatkan nilai ekonomi mencapai Rp3,28 miliar terhadap penerimaan negara bukan pajak.



Pewarta:
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2026