Rumah Nusantara 74 inisiasi pemutaran film dokumenter Darah dan Doa

id film dokumenter

Rumah Nusantara 74 juga akan menayangkan secara perdana (Launching) film dokumenter yang berjudul “Lupo-Lupo Ingek”. (ist)

Muaro (ANTARA) - Tim Rumah Nusantara (RN) 74 yang merupakan ruang pendidikan alternatif menginisiasi pemutaran film dokumenter Darah dan Doa yang disutradarai oleh Usmar Ismail pada momentum peringatan Hari Film Nasional yang jatuh pada setiap 30 Maret 2019.

Film ini dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia, selain itu film ini juga merupakan pertama yang benar-benar disutradarai oleh orang Indonesia asli (Usmar Ismail, Kelahiran Bukittinggi) dan diproduksi oleh perusahaan film milik orang Indonesia asli yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia), Usmar Ismail tercatat sebagai pendirinya.

Kabupaten Sijunjung dalam catatan sejarah, belum pernah terlibat mengagendakan perayaan hari film tersebut. Oleh karena itu momentum HFN tahun ini menginisiasi kegiatan perayaan hari film nasional tersebut pada 30 Maret 2019,kata salah-satu pimpinan di Rumah Nusantara 74 Dori Kurniadiseperti rilis diterima Kamis.

Selain merayakan hari film nasional, Rumah Nusantara juga akan menayangkan secara perdana (Launching) film dokumenter yang berjudul “Lupo-Lupo Ingek”, Sebuah dokumenter yang diproduksi oleh Rumah Nusantara 74, tentunya hal ini merupakan salah-satu yang menjadi tonggak sejarah bagi perfilman di Sijunjung.

“Film dokumenter ini merupakan salah-satu hasil dari proses kita di Kelas Dokumentasi Kearsipan yang sudah dijalankan sejak 2017," kata salah-satu pimpinan di Rumah Nusantara 74 Dori Kurniadi.

Rumah Nusantara 74 adalah sebuah Ruang Pendidikan Alternatif non-profit yang bergerak secara independen, sejak Mei 2017 mulai berproses secara berkelanjutan dan mempunyai beberapa kelas, diantaranya, Kelas Bahasa Inggris, Kelas Literasi Publik, Kelas Lingkungan, dan Kelas Dokumentasi Kearsipan.

“Ini merupakan salah-satu langkah kita di Rumah Nusantara 74, agar sejarah yang berada di lingkup Kabupaten Sijunjung khususnya dan Indonesia umumnya terdokumentasi dengan baik dan rapi," kata M Yusra sebagai Pimpinan Produksi RN.

“Proses produksi film ini murni kerja kawan-kawan yang terlibat di dalam tim produksi, yang sebagian besar isinya didominasi oleh adik-adik kita di SMA," kata Pendiri Ruang Pendidikan Alternatif(RPA) Rumah Nusantara 74 Iqbal Musa.
Sutradara film dokumenter Darah dan Doa yang Usmar Ismail. Film dokumenter perdana ini akan di Rumah Nusantara 74 pada momentum peringatan Hari Film Nasional pada 30 Maret 2019. (ist)
Dokumenter ini menceritakan tentang proses Islamisasi awal yang terjadi di Minangkabau Darek, jelas salah seorang dari tim penyutradaraan Wiranti Gusman. Peradaban Islam yang dibawa oleh Syekh Ibrahim merupakan cikal-bakal berkembangnya Islam di Luhak Nan Tuo.

Sehingga negeri tersebut di kemudian hari diberi julukan Makkah Darek. Masyarakat sudah banyak yang tidak tahu tentang sejarah ini, terlebih generasi muda. Seolah-olah sejarah yang begitu penting ini sengaja dilupakan, dan Rumah Nusantara 74 melalui dokumenter ini kembali berusaha mengingatkannya, itulah kenapa judul dokumenter ini “Lupo-Lupo Ingek” (Lupa-Lupa Ingat).

Bagaimana proses Islamisasi itu terjadi? Dan apa yang dilakukan oleh Syekh Ibrahim? Silakan hadiri pemutaran perdananya pada 30 Maret 2019 di Lapangan Monumen Hari Jadi Kabupaten Sijunjung, Nagari Tanjung Bonai Aur Selatan, Kecamatan Sumpur Kudus, Sijunjung.

Pewarta :
Editor: Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar