Realisasi imunisasi MR di Kabupaten Solok baru 57,7 persen

id Imunisasi MR

Petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Tangsel memberikan suntikan imunisasi Measleas Rubela (MR) kepada sejumlah murid Sekolah Dasar (SD) di SDN Pamulang 1, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (1/8). Pemerintah lewat Kementerian Kesehatan secara serentak melakukan Kampanye dan pemberian imunisasi MR kepada anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun sebagai komitmen global untuk membasmi virus campak rubella yang bisa memicu kecacatan dan kematian pada anak. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/pd/17)

Arosuka, (Antaranews Sumbar) - Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menyatakan pelaksanaan Imunisasi Measles dan Rubella (MR) di daerah itu baru mencapai 62.855 anak atau 57,7 persen dari target 108.000 anak.

"Capaian ini sudah mencapai separuh lebih dari target, kami optimistis untuk melanjutkannya," kata Kepala Dinas Kesehatan setempat, Sri Efianti di Arosuka, Kamis.

Ia mengatakan pelaksanaan imunisasi memang sedikit terkendala masih adanya pro dan kontra di masyarakat terkait vaksin yang digunakan, tapi sejauh ini alhamdulillah Kabupaten Solok masuk dalam peringkat keempat di Sumbar.

"Imunisasi hampir rata di semua nagari. Nagari yang cukup tinggi partisipasinya Alahan Panjang dan Talang Babungo sudah mencapai 95 persen," katanya.

Meskipun Fatwa MUI sudah menyatakan vaksin MR ini dibolehkan hingga ada vaksin pengganti, namun sebagian masyarakat masih ada yang tidak setuju anaknya diimunisasi.

"Tapi petugas puskesmas tetap bersemangat, walau banyak menghadapi rintangan di lapangan," kata dia.

Dinas Kesehatan masih terus menyosialisasikan kepada masyarakat terkait betapa pentingnya imunisasi ini, dan bahayanya jika anak tidak divaksin.

Jika petugas tidak gigih menjelaskan dan memberi pemahaman, masyarakat akan ragu anaknya untuk di vaksin.

"Kami akan tetap berusaha yang terbaik untuk kelanjutan vaksin MR ini," katanya.

Untuk mencapai target, pihaknya telah meminta dukungan dari berbagai pihak, termasuk OPD lain agar ikut memberikan pengertian ke masyarakat agar anaknya mau diimunisasi.

Petugas imunisasi juga telah diberikan pembekalan, agar dapat meminimalkan kejadian yang tidak diinginkan.

Dinkes juga sudah menyiapkan komite penanggulangan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) jika ada reaksi yang berbeda dari anak setelah diimunisasi.

"Imunisasi measles dan rubella terbukti aman dan efektif. Tapi kami tetap mengantisipasi hal lain yang mungkin terjadi," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar