Samuel Sekuritas Meyakini "Capital Inflow" Masih Kuat

id Samuel Sekuritas Meyakini "Capital Inflow" Masih Kuat

Jakarta, (ANTARA) - PT Samuel Sekuritas meyakini potensi aliran dana asing (capital inflow) ke pasar modal Indonesia masih akan kuat di 2013 seiring dengan pertumbuhan Indonesia yang lebih tinggi dan stabil dibanding negara lainnya.

"Kami melihat potensi 'capital inflow' ke pasar modal Indonesia masih akan kuat di 2013 seiring Indonesia menawarkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibanding negara lainnya," ujar Analis saham dari Samuel Sekuritas Adrianus Bias di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi dalam negeri akan ditopang oleh kekuatan domestik, tingginya arus FDI (foreign direct investment) yang masuk dan profil fiskal yang jauh lebih sehat.

Ia menambahkan, potensi aliran dana asing yang masuk juga dapat lebih meningkat selama suku bunga di negara-negara maju belum naik.

Ia mengemukakan, beberapa badan dunia dan konsensus mengekspektasikan perekonomian dunia akan membaik dengan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara maju seperti AS, China dan Uni Eropa diproyeksikan lebih tinggi dibanding 2012.

"Hal itu tercermin dari ekspektasi 'earnings' di bursa negara itu. Terlebih lagi dalam tiga bulan terakhir, data 'leading economic indicator' juga menunjukkan tren positif yang mendukung ekspektasi pemulihan ekonomi dunia," katanya.

Meski demikian, dikatakan Adrianus, pemulihan ekonomi dunia pada 2013 masih cukup rentan karena lebih banyak ditopang langkah stimulus baik itu dalam bentuk fiskal maupun moneter yang justru menimbulkan risiko "over-leverage" dan "liquity trap".

"Selain itu, pemulihan ekonomi dunia di 2013 diperkirakan belum akan cukup untuk membawa harga komoditas menguat seiring masih adanya kondisi 'oversupply' khususnya pada pasar komoditas batubara dan baja," ujarnya.

Untuk 2013, lanjut dia, pihaknya merekomendasikan 'overweight' pada beberapa sektor-sektor dengan eksposur domestik tinggi dan profil yang relatif defensif seperti perbankan, konsumer, property, semen, dan konstruksi.

Pihaknya juga memberikan rekomendasi netral untuk beberapa sektor yang berorientasi ekspor seperti pertambangan, minyak sawit mentah (CPO), dan alat berat seiring eksposur yang tinggi pada risiko perekonomian global.

Adrianus merinci beberapa saham yang menjadi pilihannya pada 2013 yakni Bank Mandiri (BMRI), Bank Tabungan Negara (BBTN), Gudang Garam (GGRM), Bumi Serpong Damai (BSDE), Semen Indonesia (SMGR), Jasa Marga (JSMR), dan Wijaya Karya (WIKA). (*/sun)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar