Logo Header Antaranews Sumbar

Apkasindo Sumbar : Petani Kelapa Sawit Harus Bermitra

Senin, 28 September 2015 11:40 WIB
Image Print
TBS Kelapa sawit. (Antara)

Padang, (Antara) - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumatera Barat, meminta petani kelapa sawit mandiri di daerah itu untuk bermitra dengan perusahaan kelapa sawit agar harga jual tandan buah segar (TBS) hasil kebun mereka menjadi bersaing.

"Di beberapa tempat penjualan TBS hasil kebun petani kelapa sawit mandiri lesu, hal ini dikarenakan mereka belum menjalin kemitraan dengan perusahaan kelapa sawit," kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Apkasindo Sumbar, Irman di Padang, Senin.

Ia mengatakan cara menjalin kemitraan dengan perusahaan adalah petani kelapa sawit mandiri harus bergabung ke dalam satu wadah berupa koperasi atau pun kelompok pekebun yang memiliki pengurus dan struktur organisasi.

Setelah itu baru dibuat kemitraan antara pekebun dengan perusahaan kelapa sawit dan di sana akan ada aturan bahwa pekebun menjual seluruh TBS kepada perusahaan melalui kelembagaan pekebun itu.

"Kerjasama harus dibuat secara tertulis dengan diketahui bupati atau wali kota atau gubernur," katanya.

Dalam perjanjian itu, katanya pembelian TBS oleh perusahaan didasarkan pada rumus harga pembelian TBS.

"Jadi tidak ada harga asal-asalan dan tidak ada yang dirugikan," katanya.

Ia mengatakan semua tahapan-tahapan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14 Tahun 2013 yang tujuannya memberikan perlindungan dalam perolehan harga wajar TBS kelapa sawit produksi pekebun mandiri.

Namun katanya hal ini tidak bisa terlaksana begitu saja tanpa dukungan penuh pemerintah daerah setempat.

"Harus ada dukungan dan sokongan dari pemerintah daerah dan kami harap aturan ini terlaksana sehingga membantu petani kelapa sawit mandiri," kata dia.

Sebelumnya beberapa orang petani di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar berencana menjual lahan kebun sawit miliknya karena harga TBS yang tak kunjung menggembirakan.

Di antara mereka yang berencana menjual lahan itu, ada yang akan diperuntukkan sebagai modal usaha ada juga sebagai ongkos dan bekal untuk merantau.

Dan ada juga di antara mereka yang merasa dicurangi oleh pedagang pengumpul karena harga TBS sejak tiga bulan terakhir di daerah itu tertinggi hanya Rp475, hal itu terjadi karena petani tidak mengetahui berapa harga pasti TBS.

Sementara itu Pemkab setempat melalui Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Peternakan dan Perkebunan, Sudirman mengatakan pemkab telah membangun komunikasi dengan pabrik kelapa sawit di daerah itu dan mereka berjanji akan menyerap TBS sawit dari kebun rakyat .

"Salah satu faktor yang membuat harga TBS rendah karena perusahaan kelapa sawit yang sedikit dan belum adanya kemitraan antara pekebun dengan perusahaan kelapa sawit, tapi mereka berjanji akan menyerap TBS dari pekebun mandiri," katanya. (*)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026