Logo Header Antaranews Sumbar

Persepi Harapkan Capres Bijak Sikapi Hasil Pemilu

Rabu, 9 Juli 2014 17:50 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) mengharapkan kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden 2014, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK, dapat bijak menyikapi hasil pemungutan suara Pilpres 2014. Wakil Ketua Persepi Muhammad Qodari dalam sebuah diskusi di sebuah stasiun televisi di Jakarta, Rabu mengatakan, sejumlah lembaga survei telah mengumumkan hasil hitung cepatnya. Ia berharap kedua pasangan capres dapat segera menyikapi hasil tersebut -kendati bukan merupakan hasil resmi- dengan pernyataan-pernyataan yang menenangkan situasi politik di Tanah Air. "Ucapan-ucapan yang kemarin disampaikan oleh calon presiden beberapa waktu lalu bahwa mereka siap menang siap kalah, dan semuanya diserahkan kepada rakyat itu betul-betul menemukan maknanya pada hari ini. Kalau disampaikan kemarin-kemarin ya silahkan tapi bisakah anda menyampaikan itu pada hari ini ketika masyarakat sudah menggunakan hak pilihnya," ujar Qodari. Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Indo Barometer itu menceritakan pengalamannya saat pemilihan kepala daerah (pilkada) di Provinsi Jawa Tengah. Saat itu, incumbent Mayjen TNI Bibit Waluyo yang dikenal sebagai sosok yang keras mampu dengan lapang dada menerima hasil pemungutan suara di Jateng yang dimenangkan oleh Ganjar Pranowo. "Kita berfikir beliau akan keras tapi begitu hasil hitung cepat, pilkada Jateng itu sudah bisa disimpulkan hasilnya dan saat diwawancara beliau menjawab dengan jawaban yang menyejukkan sekali. "Ya kalau ini kehendak rakyat ya saya menerima. Dengan cepat tensi politik di Jateng saat itu langsung adem," kata Qodari. Hitung cepat yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei sendiri memang bukan merupakan hasil yang valid dan sah, karena keputusan resmi penghitungan suara merupakan kewenangan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hasil hitung cepat sendiri berbeda antara sejumlah lembaga survei. Hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei seperti SMRC, LSI, Indikator, CSIS-Cyrrus, Kompas dan RRI menempatkan pasangan Jokowi-JK unggul dengan rata-rata suara 52 persen dari Prabowo-Hatta dengan rata-rata 47 persen. Namun, tiga lembaga survei lain yakni Puskaptis, JSI, dan LSN, justru menyatakan kemenangan berada di kubu Prabowo-Hatta. "Saya kira kalau angkanya bisa berbeda begini implikasinya luas. Implikasi paling besar adalah pendukung masing-masing kubu merasa dia yang menang karena itu ia akan ngotot dengan kemenangannya. Kalau ngotot ini kan bisa dua macam, bisa ngotot verbal, bisa ngotot fisikal, ini yang kita khawatirkan," ujar Qodari. Oleh karena itu, lanjut Qodari, tidak ada cara lain yang harus dilakukan oleh masing-masing kubu yakni mengawal proses penghitungan suara secara ketat di setiap tingkatan mulai dari TPS hingga tingkat kabupaten, provinsi, sampai ke tingkat nasional. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026