Naypyidaw, (ANTARA/AFP) - Tokoh puncak partai berkuasa Myanmar pada Selasa mundur untuk perubahan kepemimpinan bagi meningkatkan peluang kepemilihanannya melawan Aung San Suu Kyi. Pengurus partai Pembangunan dan Kesetiakawanan Bersatu (USDP), termasuk Presiden Thein Sein, mundur dari jabatan partai sebelum pemilihan kepemimpinan pada Selasa malam, kata sekretaris USDP Thein Zaw dalam muktamar pertama kelompok itu. Thein Sein melepaskan peran giat di partai itu untuk menjadi presiden pada tahun lalu pada akhir hampir setengah abad pemerintahan langsung tentara, mengantarkan perubahan tajam politik oleh pemerintahannya. Ketua majelis rendah Shwe Mann, mantan jenderal lain dan pembaru pesaing, dipandang sebagai calon utama bagi kepemimpinan USDP, dengan anggota mengincar pemilihan umum 2015, yang dipandang sebagai ujian besar kepercayaan demokrasi pemerintahan itu. "Ini hari sangat penting," kata Shwe Mann pada muktamar USDP, dengan menambahkan bahwa seluruh negara mengamati seksama alur itu. Ia mendesak perutusan berperanserta dalam perubahan tersebut. "Jika kita menata partai, kita akan mengubah diri menjadi orang Partai," tambahnya. Pengulas menyatakan Thein Sein terjebak dalam pertarungan kekuasaan dengan Shwe Mann, yang lebih senior di bawah kekuasaan tentara sebelumnya dan secara luas dianggap bernapsu menjadi presiden sesudah 2015. USDP, yang didirikan mantan penguasa, masih kesal akibat kekalahan dalam pemilihan umum sela pada April dari Suu Kyi dan partai Liga Bangsa untuk Demokrasi-nya, yang merebut 43 dari 44 kursi, yang diperebutkan. USDP pada dua tahun lalu menang pemilihan umum, yang dirusak tuduhan penipuan dan ketidak-ikutan Suu Kyi, yang dibebaskan dari tahanan rumah hanya beberapa hari kemudian. Tapi, pengamat menyatakan perkembangan kebebasan di Myanmar menempatkan partai itu pada kerugian berbeda jika berhadapan dengan ketenaran besar Suu Kyi dalam pemilihan umum bebas dan adil. Suu Kyi baru-baru ini menyatakan berani menjadi presiden jika terpilih. Itu memerlukan amandemen undang-undang dasar, yang melarang orang dengan kerabat asing memegang jabatan tinggi. Suu Kyi, yang menikah dengan ilmuwan Inggris, memiliki dua putera, yang tinggal di Barat. (*/jno)